Detik-Detik Wafatnya Siti Khadijah

3:54 PM 0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Detik-Detik Wafatnya Siti Khadijah - Siti Khadijah adalah istri pertama Rasululloh. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLOH dan kenabian Rasululloh. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasululloh dan penyebaran agama Islam.

Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlon tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasululloh hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasululloh sekitar 50 tahun.

Permintaan Terakhir Siti Khadijah

Detik-Detik Wafatnya Siti Khadijah
Detik-Detik Wafatnya Siti Khadijah


Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasulullloh SAW,
Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasululloh, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.

Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dawah Islam sepenuhnya, jawab Rasululloh
Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.

Mendengar itu Rasululloh berkata,

Wahai Khadijah, ALLOH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.

Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasululloh. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.

Kain Kafan dari Allah

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasululloh menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,

Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?

Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasululloh, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.

Rasululloh bertanya, Kenapa, ya Jibril?

Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan sahut Jibril.

Rasululloh berkata di dekat jasad Khadijah,

Wahai Khadijah istriku sayang, demi ALLOH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLOH maha mengetahui semua amalanmu.

"Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.

"Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?

Tersedu Rasululloh mengenang istrinya semasa hidup.

Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada Rasululloh untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.

Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasululloh kemudian berdoa kepada ALLOH.

Ya ALLOH, ya Ilahi Robbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?

Tiba-tiba Ali berkata, Aku, Ya Rasululloh!

Pengorbana Siti Khodijah Semasa Hidup

Dikisahkan, suatu hari ketika Rasululloh pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasululloh bersabda,

Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.

Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasululloh yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasululloh tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasululloh dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasululloh. Beliau pun terjaga.

Wahai Khadijah Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? tanya Rasululloh dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasululloh tak kuasa melihat istrinya menangis.

Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLOH. Bukan itu yang kutangiskan." jawab Khadijah.

"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Alloh dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Alloh dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Alloh dan RasulNya.

"Wahai Rasululloh. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasululloh. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.

"Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Alloh. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasululloh.

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasululloh. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasululloh ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Tholib telah wafat.

Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasululloh.

Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, al Fatihah - - - - -

Kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani.
(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Perang Badar dalam Alquran

6:34 PM 0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Perang Badar dalam Alquran - Pertempuran Badar disinggung lewat beberapa ayat di dalam Quran Surah Ali-'Imran.

Perang Badar dalam Alquran

Perang Badar dalam Alquran
Perang Badar dalam Alquran


QS 3: 123 : Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

QS 3: 124 : (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: " Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?"

QS 3: 125 : Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

QS 3: 126 : Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa.
(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Syahid Perang Badar

6:30 PM 0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Syahid Perang Badar -Sebanyak 14 sahabat Rasullulah syahid dalam pertempuran Badar. Nama mereka tercantum di lokasi:

1) Sayyidina 'Umayr ibn Abi Waqas.
2) Sayyidina Safwan ibn Wahb.
3) Sayyidina Dhu-Shimalayn ibn 'Abdi.
4) Sayyidina Mihja 'ibn Salih.
5) Sayyidina 'Aqil bin al-Bukayr.
6) Sayyidina 'Ubaydah ibn al-Harith.
7) Sayyidina Sa'ad ibn Khaythama.
8) Sayyidina Mubashir ibn 'Abd al-Mundhir.
9) Sayyidina Harithah ibn Suraqah.
10) Sayyidina Rafi 'ibn Mu'ala.
11) Sayyidina 'Umayr ibn Humam.
12) Sayyidina Yazid ibn al-Harith.
13) Sayyidina Mu'awidh ibn al-Harith.
14) Sayyiduna 'Awf ibn al-Harith.

Syahid Perang Badar
Syahid Perang Badar


Sementara 70 orang dari tentara Quraisy tewas, termasuk salah satu komandan mereka, Abu Jahl. Banyak dari mereka yang dibawa sebagai tawanan kaum Muslimin yang kemudian ditebus.

Tahanan perang diperlakukan dengan bermartabat dan hormat. Sebuah kejadian yang menunjukkan hal ini disebutkan di dalam Sahih Al-Bukhari:

Jâbir menceritakan: " Setelah Pertempuran Badar, tawanan perang dibawa. Di antara mereka adalah al-`Abbas. Dia tidak mengenakan baju, jadi Rasullulah mencarikan kemeja untuknya. Ternyata kemeja 'Abdullah b. Ubayy adalah ukuran yang tepat, jadi Nabi memberikannya kepada al-`Abbas untuk mengenakan dan mengganti baju Abdullah dengan bajunya sendiri.

Peristiwa perang Badr yang berat melawan kafir mengandung pelajaran bahwa pertolongan Allah itu diberikan kepada yang berdo’a dan usaha. Keseimbangan do’a dan usaha itulah yang mesti tetap diperaktikan dan diterapkan dalam segala aspek kehidupan.
(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Saat 5.000 Malaikat Turun ke Bumi dala Perang Badar

6:23 PM 0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Saat 5.000 Malaikat Turun ke Bumi dala Perang Badar  - Badar adalah nama sebuah lembah yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Lembah ini diapit oleh dua bukit, yaitu di timur bukitnya bernama 'Udwah al Qushwa' dan di barat bukitnya bernama 'Udwah ad Dunya'.

Saat 5.000 Malaikat Turun ke Bumi dala Perang Badar
Saat 5.000 Malaikat Turun ke Bumi dala Perang Badar

Saat 5.000 Malaikat Turun ke Bumi dala Perang Badar

Di sisi selatan, Lembah Badar dibatasi oleh bukit bernama bukit 'al-Asfal'. Sejak masa sebelum Islam, lembah tersebut sudah menjadi jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang asal Makkah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam (Suriah dan Lebanon).

Tanahnya yang subur karena memiliki campuran pasir dan tanah dengan beberapa mata air di lembah tersebut membuat para kafilah bisa singgah beristirahat di lembah ini dengan nyaman.

Saat ini, lembah badar menjadi salah satu kota yang berada di wilayah Provinsi Madinah dengan nama lengkap Kota Badar Hunain. Jarak kota ini dari Kota  Madinah mencapai sekitar 130 km.

Meski demikian, sebagian wilayah lembah yang pernah menjadi lokasi pertempuran besar, yakni Perang Badar al Qubro, masih dibiarkan menjadi padang terbuka.

Bahkan, pada satu lokasi di lembah tersebut, terdapat bangunan tembok menyerupai benteng yang mengelilingi areal cukup luas. Lokasi itu diperkirakan menjadi tempat pertempuran sekaligus tempat dimakamkannya para syuhada yang gugur dalam Perang Badar.

Lembah Badar memang menjadi sangat dikenal dalam sejarah Islam. Tempat ini menjadi saksi suatu peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah tatkala pertempuran besar antara umat Islam dari Madinah dan kaum musyrikin dari Makkah terjadi.

Pertempuran besar di lembah Badar tersebut terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriyah atau 17 Maret 624 M. Perang yang juga sering disebut-sebut sebagai perang akidah ini memberikan kemenangan besar bagi kaum Muslimin.

Sebelum Perang Badar terjadi, kaum Muslim Madinah dan penduduk Makkah sebenarnya sudah beberapa kali terlibat konflik bersenjata skala kecil. Ketegangan antara kelompok masyarakat di Makkah dan Madinah ini terjadi akibat serangan umat Islam di Madinah pada rombongan dagang kaum Quraisy.

Umat Islam Madinah yang sebelumnya berasal dari kaum Quraisy Makkah berpendapat, penyerangan terhadap rombongan dagang dari Makkah sah dilakukan. Pasalnya, kaum Quraisy Makkah telah mengusir dan menjarah barang-barang yang mereka tinggalkan di Makkah.

Pada akhir tahun 623 Masehi, aksi penyerangan terhadap para pedagang Makkah ini makin sering dilakukan. Puncaknya, terjadi menjelang pertempuran Badar. Saat itu, umat Islam Madinah mendengar kabar mengenai rencana kedatangan kafilah dagang kaum Quraisy dari Syam, yang berada di bawah perlindungan pasukan Abu Sufyan bin Harb.

Mendapat informasi tersebut, sahabat Rasulullah SAW, Hamzah, meminta ijin untuk membalas perlakuan orang kafir Quraisy. Saat itulah, turun ayat 39-40 Surah Al Hajj yang memberikan ijin pada kaum Muslimin untuk berperang jika mereka dizalimi.

Mendapat wahyu ini, Rasulullah pun memimpin sendiri pasukannya untuk melakukan pengadangan. Dengan pasukan yang terdiri atas 313 orang dan 2 ekor unta, mereka menuju suatu tempat bernama Shafra ( di luar Kota Madinah).

Upaya pencegatan pasukan Muslimin ini tercium oleh Abu Sufyan, sehingga dia mengambil rute kembali ke Makkah dengan melalu jalur tepi laut. Sementara, kaum musyrikin Quraisy yang mendapat kabar rombongan Abu Sufyan dihadang pasukah Rasulullah mengirimkan bantuan dengan mengirim 1.000 orang. Pasukan ini dipimpin oleh Abu Jahal.

Rasulullah SAW dan para saha bat yang mendapat kabar Abu Sufyan sudah sampai Makkah dan kaum Quraisy mengirimkan pasukan, tidak mengurungkan perjalanan. Tapi bertekad menghadapi pasukan yang dipimpin Abu Jahal.

Keteguhan hati umat Islam untuk bertempur melawan pasukan AbuJahal yang lebih besar ini lah yang berbuah kemenang Terkait pertempuran ini, Allah ber firman.

"Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingat lah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda."(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Mujahid Muda di Perang Badar

5:53 PM 0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Mujahid Muda di Perang Badar - Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan orang-orang kafir. Perang ini terjadi pada Bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah. Perang ini adalah peperangan terpenting dalam sejarah umat islam, karena perang ini mempengaruhi jiwa, mental, dan semangat umat islam dalam menghadapi orang-orang kafir di masa-masa berikutnya.

Mujahid Muda di Perang Badar

Peristiwa Perang Badar telah menampilkan pahlawan-pahlawan terbesar dalam islam dimana jumlah kedua pasukan antara kaum muslimin dan orang kafir sangat tidak imbang, yaitu 313 mujahid dari kalangan kaum muslimin melawan 1000 orang kafir. Ditambah lagi keadaan kaum muslimin yang menahan lapar dan dahaga karena peperangan tersebut terjadi pada Bulan Ramadan dan kaum muslimin dalam keadaan berpuasa. Namun kekuatan iman yang ada dalam jiwa kaum muslimin membuat mereka sama sekali tak gentar bertempur dengan musuh, hati yang telah dipenuhi kerinduan terhadap surga dan kecintaan kepada Sang Khalik membuatnya begitu kokoh menghadapi musuh yang jauh lebih banyak.

Mujahid Muda di Perang Badar
Mujahid Muda di Perang Badar


Diantara pahlawan islam yang tampil dalam perang ini adalah dua orang sahabat cilik yang memiliki keberanian luar biasa, dikala remaja seumuran mereka masih suka bermain-main mereka maju  untuk ikut serta berperang bersama para pejuang dan masuk kedalam barisan tentara pertama Rasulullah SAW. Mereka berdua adalah Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh & Mu’awwidz bin ‘Afra’.

Keduanya masih dalam usia belia, namun keduanya tidak ingin meluputkan kehormatan berperang bersama pasukan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Marilah kita simak kisah mereka yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra.

Abdurrahman Ibnu ‘Auf Radliyallaahu ‘anhu berkata: “ketika aku berada di barisan didalam Perang Badar, saya melihat ke kanan dan kiri, ternyata saya berada diantara dua pemuda dari kalangan anshar yang masih begitu belia, saya berharap tetap berada diantara keduanya, maka salah satu dari keduanya berbisik kepadaku dan berkata: wahai paman, tahukah engkau siapa Abu Jahal? Saya menjawab: ‘ia, apa yang kamu inginkan darinya wahai ponakanku?’, dia berkata: ‘saya mendapat kabar bahwa dia selalu mencaci Rasulullah SAW, demi yang jiwaku ada di tangannya jika saya melihatnya maka bayanganku tidak akan berpisah dari bayangannya sampai salah satu dari kita mati lebih dulu,’ maka saya takjub dengan keadaan tersebut, pemuda yang kedua juga berbisik kepadaku dengan perkataan yang sama seperti itu, tak lama kemudian aku melihat Abu Jahal mondar-mandir ditengah-tengah pasukan, maka saya berkata: itulah orang yang kalian tanyakan.

Mereka berdua (Mu’awwidz dan Mu’adz) saling berlomba memancungnya, hingga mereka membunuhnya. Kemudian mereka kembali kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya: “Siapakah di antara kamu berdua yang membunuhnya? Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?“. Mereka menjawab: ‘Belum.’ Maka beliau melihat kepada kedua pedang mereka kemudian berkata, “kalian berdua sama-sama telah membunuhnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Peristiwa perang badar termaktub dalam Al-Qur’an dan akan senantiasa dibaca oleh umat manusia sampai hari kiamat. Allah SWT berfirman:

ولقد نصركم الله ببدر وأنتم أذلة فاتقوا الله لعلكم تشكرون. إذ تقول للمؤمنين ألن يكفيكم أن يمدكم ربكم بثلــثة ءالــف من الملئكة مسومين

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar sedangkan kamu ketika itu dalam keadaan lemah, Oleh itu bertaqwalah kepada Allah agar kamu mensyukuriNya.” (QS. Ali-Imran: 123).

Kedua pemuda diatas adalah teladan untuk kita semua, kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW dan agama islam telah membakar semangat juang mereka demi membela agama islam. Itulah keadaan para pejuang kita dahulu, bagaimanakah dengan kita sekarang? Dimanakah posisi kita disamping mereka?

Membela agama tak selalu dengan mengangkat senjata melawan orang kafir, itupun ada batas dan ketentuannya. Menasehati sesama muslim, taat terhadap batas-batas yang telah Allah tentukan, menebarkan ilmu yang bermanfaat, dan semacamnya juga termasuk membela agama Islam.

Marilah kita berkhidmat dan menyumbang peran kepada agama islam ini. Semoga bermanfaat

Penyusun: Arinal Haq(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Perang Badar Ditinjau dari Segi Geohistori

5:36 PM 0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Perang Badar Ditinjau dari Segi Geohistori 

1. Kondisi Geografis Semenanjung Arab


Semenanjung Arab merupakan semenanjung barat daya Asia, sebuah semenanjung terbesar dalam peta dunia. Wilayahnya, dengan luas 1.745.900 km2 , dihuni oleh sekitar empat belas juta jiwa. Arab Saudi, dengan luas daratan sekitar 1.014.900 km2 (tidak termasuk al-Rab al-Khalî), berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa, Yaman lima juta jiwa; dan selebihnya tinggal di Kuwait, Qatar, Emirat Arab, Oman dan Masqat, dan Aden. Para ahli geologi mengatakan bahwa wilayah itu pada awalnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dataran Sahara (kini dipisahkan oleh lembah Nil dan Laut Merah) dan kawasan berpasir yang menyambungkan Asia melalui Persia bagian tengah ke Gurun Gobi. Dahulu kala, arus laut Samudera Atlantik dari barat, yang kini menjadi sumber hujan bagi dataran tinggi Suriah-Palestina, pasti pernah juga menjadi sumber hujan bagi kawasan Semenanjung Arab. Dan selama satu periode tertentu pada Abad Es, daerah-daerah gurun itu merupakan padang rumput yang bisa dihuni manusia. Karena pencairan es tidak pernah mencapai lebih jauh dari bagian selatan pegunungan Asia Kecil, Semenanjung Arab tetap menjadi wilayah yang bisa dihuni karena tidak tersentuh glasiasi. Dasar ceruk lembahnya yang dalam dan kering masih memperlihatkan kuatnya kikisan air hujan yang pernah mengalir melalui ceruk itu. Daerah perbatasan di sebelah utara tidak bisa digambarkan dengan baik, tapi bisa dipandang sebagai garis imajiner yang mengarah ke timur dari ujung Teluk ‘Aqabah di Laut Merah menuju Efrat. Jadi, secara geologis seluruh gurun Suriah-Mesopotamia merupakan bagian dari Semenanjung Arab (Hitti, 2002: 16-17).

Dataran Semenanjung Arab menurun dari barat ke Teluk Persia dan dataran rendah Mesopotamia. Tulang punggun semenanjung ini merupakan gugusan pegunungan yang berbaris sejajar dengan pantai sebelah barat dengan ketinggian lebih dari 9.000 kaki di Madyan di sebelah utara dan 14.000 kaki di Yaman di sebelah selatan. Gunung al-Sarâh di Hijaz mencapai ketinggian 10.000 kaki. Dari bagian tulang punggung ini, kaki gunung sebelah timur menurun dan panjang; sedangkan di sebelah barat, mengarah ke Laut Merah, curam dan pendek. Sisi selatan Semenanjung Arab, tempat air laut terus mengalami penyusutan rata-rata 72 kaki per tahun, dibingkai oleh dataran-dataran rendah, Tihamah. Nejed, dataran tinggi sebelah utara, memiliki ketinggian rata-rata 2.500 kaki. Puncak tertinggi dari gugusan pegunungannya, Syammar, merupakan pegunungan batu granit merah, Gunung Aja’, dengan ketinggian sekitar 5.55. kaki di atas permukaan laut. Di belakang dataran rendah pesisir pantai terbentang dataran dengan beragam ketinggian di ketiga sisinya. Di Oman, sebelah timur pesisir, puncak Jabal al-Akhdhar mencapai ketinggian 9.900 kaki, yang membentuk lanskap unik di tengah-tengah dataran rendah yang memanjang di bagian timur (Hitti, 2002: 17).

Kecuali pegunungan dan dataran-dataran tinggi yang disebutkan di atas, wilayah tersebut terutama terdiri atas gurun pasir dan padang tandus. Padang-padang tandus itu (bentuk tunggal, dârah) merupakan dataran luas di antara perbukitan yang tertutup pasir dan menyimpan kandungan air bawah tanah. Gurun yang biasa disebut gurun pasir Suriah, Bâdiyah al-Syâm, juga gurun pasir Mesopotamia, kebanyakan berupa dataran padang tandus. Bagian selatan gurun Suriah oleh penduduk setempat disebut al Hamâd. Bagian sebelah barat dataran padang tandus Mesopotamia sering disebut Bâdiyah al-‘Irâq atau al-Samâwah (Hitti, 2002: 17-18).

Di antara sejumlah dataran gurun di kawasan itu, terdapat tiga jenis gurun:


  1. Nufûd besar, sebuah bentangan daratan berpasir putih atau kemerahan yang menyelimuti wilayah yang sangat luas di Semenanjung Arab Utara. Sebutan klasik untuk daratan semacam itu adalah al-bâdiyah, kadang-kadang juga disebut al-dahnâ’. Meskipun berudara kering, kecuali di beberapa sumber air, pada musim dingin al-Nufûd disirami air hujan sehingga dataran itu diselimuti hamparan rerumputan yang menghijau dan berubah menjadi surge bagi kawanan unta dan domba milik suku-suku badui nomad. Beberapa penjelajah pertama dari selusin orang Eropa yang berhasil menembus kawasan Nufûd adalah seorang Prancis Alsatian, Charled Huber (1878); seorang diplomat dan penyair Inggris, Wilfrid S. Blunt (1879); dan seorang orientalis dari Strassburg, Julius Euting (1883).
  2. Al-Dahnâ’ (tanah merah), dataran berpasir merah yang membentang dari Nufûd besar di utara hingga al-Rab’ al-Khâli di selatan. Hamparan gurun pasir ini membentuk pola busur besar mengarah ke sebelah tenggara, dengan panjang lebih dari 1020 km. Bagian sebelah barat terkadang disebut al-Ahqâf (gurun pasir). Pada peta kuno, al-Dahnâ’ biasanya disebut juga al-Rab’ al-Khâli (tanah kosong). Ketika musim hujan, al-Dahnâ’ diselimuti oleh bentangan padang rumput hijau yang menarik orang-orang badui dan ternaknya selama beberapa bulan dalam setahun, tapi pada musim panas wilyah itu sepi dari denyut kehidupan. Sebelum Bertram Thomas, tidak ada orang Eropa yang pernah berupaya menyeberang al-Rab’ al-Khâli, “daerah tak berpenghuni” di Semenanjung Arab. Perusahaan minyak Arab-Amerika (ARAMCO) menggambar wilayah seluas 425.000 km2 di atas petanya. Thomas menyeberanginya selama 58 hari dari Laut Arab ke Teluk Persia dan menyaksikan fenomena pasir bernyanyi serta menemukan sebuah “danau air asin”, yang kenyataannya merupakan bagian “tangan” dari Teluk Persia di sebelah selatan Qatar. Hingga saat itu, pengetahuan kita tentang daratan kosong yang misterius dan menakutkan di Arab Selatan itu tidak lebih dari sekedar rekaan para ahli geografi abad kesepuluh.
  3.  Al-Harrah, sebuah daratan yang terbentuk dari lava bergelombang dan retak-retak di atas permukaan pasir berbatu. Bentangan daratan vulkanik jenis ini banyak dijumpai di wilayah Semenanjung sebelah barat dan tengah, dan menjorok ke utara hingga wilayah Hauran sebelah timur. Yâqût mencatat tak kurang dari tiga puluh buah Harrah. Letusan vulkanik terakhir yang diriwayatkan oleh para sejarahan Arab terjadi pada 1256 M.


Dalam lingkaran gurun pasir dan padang tandus ini terdapat dataran tinggi, Nejed, sebuah wilayah yang dihuni oleh kaum Wahabi. Di Nejed, batuan sedimen telah lama dikenal; di mana-mana bisa dijumpai wilayah sempit berpasir. Bukit Syammar terdiri atas batu-batu granit dan batuan hitam dari letusan gunung vulkanik (Hitti, 2002: 20).

Dari sisi kondisi cuaca, Semenanjung Arab merupakan salah satu wilayah terkering dan terpanas. Meskipun diapit oleh lautan di sebelah barat dan timur, laut itu terlalu kecil untuk dapat memengaruhi kondisi cuaca Afro-Asia yang jarang turun hujan. Lautan di sebelah selatan memang membawa partikel air hujan, tapi badai gurun (samûm) musiman menyapu wilayah tersebut dan hanya menyisakan sedikit kelembapan di wilayah daratan. Angin timur (al-shabâ) yang sejuk dan menyegarkan menjadi tema yang sangat disukai oleh para penyair Arab (Hitti, 2002: 20).

Di Hijaz, tempat kelahiran Islam, musim kering yang berlangsung selama tiga tahun atau lebih merupakan hal yang lumrah. Hujan badai yang singkat dan banjir yang cukup besar kadang-kadang menimpa Mekah dan Madinah, dan pernah beberapa kali hampir meruntuhkan bangunan Ka’bah; al-Balâdhuri menulis satu bab penuh untuk mengisahkan banjir bandan (suyûl) yang menyerang Mekah. Setelah hujan turun, tanaman gurun untuk makanan ternak bertumbuhan. Di sebelah utara Hijaz, oasis terpencil, yang paling besar luasnya sekitar 17 km2 persegi, merupakan sumber pendukung kehidupan satu-satunya bagi penduduk sekitar. Lima perenam penduduk Hijaz adalah nomaden. Oasis-oasis tertentu seperti Fadak (kini al-Hâ’it), yang perannya cukup diperhitungkan pada masa awal Islam, kini telah kehilangan signifikansinya. Pada masa Nabi, kebanyakan dataran luas yang subur ini telah dihuni dan ditanami oleh orang-orang Yahudi. Rata-rata suhu pertahun di dataran rendah Hijaz mendekati 90oF. Dengan suhu sedikit di bawah 70oF, Madinah terasa lebih menyegarkan disbanding kota tetangganya di selatan, Mekah (Hitti, 2002: 20-21).

Hanya Yaman dan Asir yang mendapatkan curah hujan yang cukup untuk bercocok tanam secara teratur. Tanaman yang tumbuh dua musim dapat dijumpai di lembah subur ini yang berjarak sekitara 340 km. dari pesisir Shan’â, ibu kota Yaman modern, memiliki ketinggian lebih dari 7.000 kaki di atas permukaan laut yang menjadikannya sebagai salah satu kota terbaik dan terindah di Semenanjung. Dataran subur lainnya, meskipun tidak merata kesuburannya, bisa dijumpai di sekitar pesisir. Permukaan tanah Hadramaut dicirikan dengan perbukitan landai yang cukup banyak memiliki kandungan air bawah tanah. Oman, wilayah paling timur, mendapatkan curah hujan yang cukup. Daerah-daerah yang sangat panas dan kering adalah Jedah, Hudaidah dan Masqat (Hitti, 2002: 21).

Semenanjung Arab sama sekali tidak memiliki satu pun sungai besar yang mengalir sepanjang dua musim dan bermuara di laut. Ia juga tidak memiliki aliran sungai yang bisa dilalui kapal. Sebagai ganti sungai, Semenanjung Arab memiliki jaringan wadi (danau) yang menampung limpahan curah hujan yang cukup deras. Wadi-wadi ini juga mempunyai peran lain: mereka menjadi penentu arah rute perjalanan kafilah dan jemaah haji. Sejak masa kelahiran Islam, para jemaah haji telah membentuk satu jaringan penghubung penting antara Semenanjung Arab dengan dunia luar. Jalur darat yang penting adalah dari Mesopotamia, melalui Buraidah di Nejed, menyusuri Wâdî al-Sirhân dan menyusuri pesisir Laut Merah. Jalur di dalam semenanjung itu sendiri bisa ditempuh melewati pesisir pantai yang mengitari semenanjung, atau bisa juga ditempuh melintasi semenanjung dari barat daya ke timur laut menembus oasis bagian tengah dengan menghindari wilayah yang disebut Daratan Kosong (Hitti, 2002: 21-22).

Seorang ahli geografi abad ke-10, al-Istakhrî, menyebutkan hanya satu tempat di Hijaz, yaitu bukit di dekat Taif yang airnya dingin membeku. Al-Hamdâni juga menyebutkan adanya air dingin membeku di Shan’â. Selain tempat-tempat itu, Glaser juga menambahkan tempat lain seperti Bukit Hadhûr al-Syaikh di Yaman, tempat salju turun hampir setiap musim dingin. Embun es juga lebih banyak dijumpai di sana (Hitti, 2002: 22).

Kondisi Lahan, Budidaya Tanaman, dan Fauna

Udara yang kering dan tanah yang beragam mengurangi kemungkinan tumbuhnya tanaman-tanaman hijau. Hijaz banyak ditumbuhi pohon kurma. Gandum tumbuh di Yaman dan oasis-oasis tertentu. Barley ditanam untuk makanan kuda. Biji-bijian tumbuh di beberapa wilayah tertentu, dan padi tumbuhdi Oman dan Hasa. Di dataran tinggi yang sejajar dengan pantai selatan, terutama di Mahrah, tanm;an penghasil gaharu—yang memainkan peranan penting pada masa-masa awal perdagangan di Arab Selatan—masih banyak dijumpai. Hasil pertanian utama dari Asir adalah getah Arab. Kopi, yang menjadi ciri khas Yaman, dibawa ke Semenanjung Arab bagian selatan pada abad ke-14 dari Abissinia. Rujukan paling awal tentang “anggur Islam” ini terdapat dalam tulisan-tulisan abad ke-16. Kopi pertama sekali disebutkan oleh para penulis Eropa pada 1585 (Hitti, 2002: 22-23).

Di antara pohon-pohon di gurun pasir terdapat beberapa spesies pohon akasia, termasuk athl dan ghada, yang menghasilkan minyak hitam unggulan. Spesies lainnya, talh, menghasilkan getah Arab. Gurun pasir juga menghasilkan samh, biji-bijian yang menghasilkan tepung untuk membuat bubur, serta jamur hitam kecoklatan dan al-sana (tanaman obat) yang banyak dicari (Hitti, 2002: 23).

Di antara tanaman yang dibudidayakan, anggur—dibawa dari daratan Suriah pada abad ke-4 M—bisa dijumpai di Taif, dan menghasilkan minuman beralkohol yang dikenal dengan sebutan nabîdh al-zabîb. Meski demikian, arak (khamr), yang banyak didendangkan oleh para penyair Arab, merupakan produk impor dari Hauran dan Libanon. Pohon zaitun, yang berasal dari Suriah tidak dikenal di Hijaz. Produk lainnya dari oasis-oasis Arab adalah delima, apel, apricot, kacang almond, jeruk, lemon, tebu, semangka, dan pisang. Orang-orang Nabasia dan Yahudi mungkin merupakan bangsa pertama yang memperkenalkan tanaman buah-buahan itu dari utara (Hitti, 2002: 23).

Ada satu jenis tumbuhan yang menjadi primadona pertanian di Semenanjung Arab, yaitu kurma. Buah kurma sangat dikenal luas di dunia, banyak diminati dan bernilai tinggi. Dimakan bersama susu, buah kurma merupakan makanan utama orang-orang badui dan, di samping daging unta, merupakan satu-satunya makanan padat mereka. Minuman dari buah kurma yang diperam disebut nabîdh , dan sangat disukai. Biji buah kurma yang ditumbuh dapat dibuat menjadi makanan unta. Memiliki “dua benda hitam” (al-aswadayn ), yaitu air dan kurma, merupakan impian setiap orang badui. Nabi diriwayatkan pernah bersabda,”Hormatilah bibi kalian, yaitu pohon kurma yang diciptakan dari tanah yang sama dengan Adam.” Para penulis Arab menyebutkan seratus jenis kurma yang terdapat di Madinah dan sekitarnya (Hitti, 2002: 23-24).

Ratu tumbuhan Arab ini dibawa dari utara, yaitu dari Mesopotamia, tempat pohon kurma menjadi tumbuhan penting yang menarik minat leluhur manusia. Kosakata bahasa Arab di Nejed dan Hijaz tentang pertanian, misalnya ba’l (tanaman tadah hujan), akkâr (pembajak tanah), dan sebagainya, menunjukkan bahwa kata-kata itu diambil dari kosakata bangsa Semit utara, terutama bangsa Aramia (Hitti, 2002: 24).

Dalam dunia fauna dikenal beberapa kosakata seperti namîr (panter), fahd (macan tutul), hyena, serigala, rubah, dan kadal-kadalan (khususnya al-dhabb). Singa, yang sering dikutip oleh para penyair kuno di Semenanjung Arab, kini sudah punah.  Beberapa spesies monyet dapat ditemukan di Yaman. Di antara burung pemangsa, ‘uqâb (elang), hubâra (nasar), rajawali, elang besar dan burung hantu bisa ditemukan di semenanjung. Burung gagak sangat banyak jumlahnya. Burung yang paling popular adalah hudhud, camar (si penyanyi), bulbul, merpati, dan satu spesies burung puyuh yang dikenal dalam literatur Arab dengan nama al-qathâ (Hitti, 2002: 24).

Hewan yang paling banyak dipelihara adalah unta, keledai, anjing penjaga, anjing pemburu (salûqi), kucing, domba, dan kambing. Menurut cerita, keledai dibawa dari Mesir setelah masa Hijrah Nabi (Hitti, 2002: 24).

Gurun pasir juga melahirkan beberapa spesies baru belalang yang menujadi santapan orang-orang Badui, dengan cara dibakar kemudian dibubuhi garam. Wabah belalang biasanya muncul setiap tujuh tahun sekali. Menurut cerita orang banyak, binatang reptil yang terdapat di Nufûd adalah sejenis ular berbisa (viper). Lawrence menceritakan pengalamannya yang menegangkan ketika menangani ular di Wâdî al-Sirhân (Hitti, 2002: 24).

Hewan lain yang dikenal luas dalam literature Islam adalah kuda. Hewan ini termasuk hewan yang paling belakangan diperkenalkan kepada bangsa Arab kuno. Hewan ini belum dikenal oleh orang-orang Semit terdahulu. Sebagai hewan peliharaan pada awal zaman klasik di timur Laut Kaspia, yang dikembangbiakkan oleh para penggembala nomad Indo-Eropa, kuda baru belakangan dibawa dalam jumlah besar oleh orang-orang Kassit dan Hitti, dan dari sanalah—sekitar dua abad sebelum Masehi – kuda dibawa ke Asia Barat. Dari Suriah, kuda diperkenalkan ke Semenanjung Arab sebelum abad pertama Masehi. Di sanalah hewan itu memiliki kesempatan yang paling baik untuk menjaga kemurnian darahnya, terbebas dari percampuran keturunan. Orang-orang Hyksos membawa jenis kuda itu dari Suriah ke Mesir, sementara orang-orang Lydia membawanya dari Asia Kecil ke Yunani, yang disakralkan oleh bangsa Phidia di Kuil Parthenon, Atena. Dalam catatan bangsa Mesir, Assyria-Babilonia dan Persia awal, diceritakan bahwa orang-orang Arab terdahulu merupakan para penunggang unta, bukan pengendara kuda. Unta, bukan kuda, dijadikan upeti dari bangsa “Urbi Romawi” untuk bangsa Assyria, bangsa penakluk. Tentara Xerxes yang hendak menyerbu Yunani menyebutkan bahwa bangsa Arab menunggangi unta, Strabo, kemungkinan atas perintah temannya Aelius Gallus, seorang jenderal Romawi yang menduduki kawasa Arab pada akhir 24 S.M., menyangkal keberadaan kuda di semenanjung ini (Hitti, 2002: 25).

Karena ketenarannya dalam bentuk fisik, daya tahan, kecerdasan dan kepatuhan kepada pemiliknya, kuda keturunan Arab (kuhaylan) dikenal oleh orang-orang Barat sebagai keturunan kuda unggulan. Pada abad kedelapan, orang-orang Arab membawa jenis kuda itu ke Eropa melalui Spanyol , yang melahirkan kuda keturunan Berber dan Andalusia. Selama periode Perang Salib, kuda Inggris dikawinkan silang dengan kuda-kuda Arab (Hitti, 2002: 25).

Di dataran Arab, kuda merupakan hewan mahal yang pemberian makanan dan perawatannya cukup merepotkan pemiliknya yang kebanyakan tinggal di gurun. Memiliki kuda merupakan simbol kemewahan. Keistimewaan utama kuda adalah kecepatanntya yang sangat diperlukan dalam serbuat kilat (ghazw) yang menjadi tradisi orang-orang badui. Kuda juga digunakan untuk pertandingan (jarîd) dalam olahraga berburu. Di perkampungan Arab, di tengah musim kemarau ketika air sangat langka didapatkan,  seorang anak kecil akan dibiarkan menangis kehausan, sementara orangtuanya yang memiliki kuda akan menuangkan air terakhir ke dalam sebuah wadah untuk diminumkan kepada kudanya (Hitti, 2002: 25-26).

Jika kuda dianggap sebagai hewan taklukan manusia yang paling hebat, maka dari sudut pandang orang-orang nomad, unta merupakan hewan yang paling berguna. Tanpa unta, gurun pasir tampaknya mustahil menjadi hunia manusia. Unta merupakan sumber penghidupan orang-orang nomad, kendaraan, dan alat tukar mereka. Mahar, barang tebusan (diyah), benda taruhan (maysîr), simbol kekayaan para pemimpin, semuanya dihitung dengan bilangan unta. Unta merupakan teman setia orang Badui, alter ego dan penolong mereka. Orang Badui meminum air susunya (yang diberikan juga untuk hewan ternak mereka), memakan dagingnya, menutupi tubuh mereka dengan kulitnya, dan membuat tenda dari bulunya. Kotorannya mereka jadikan bahan bakar, dan air badui, unta lebih dari sekedar “bahtera gurun”; ia merupakan karunia Tuhan (lihat Q.S. 16: 5-8). Mengutip ungkapan  Sprenger, kurang merasa bangga jika disebut sebagai ahl al-ba’îr, masyarakat unta. Musil menyebutkan bahwa hampir tidak ada satu pun anggota suku Ruwalah yang tidak pernah minum air susu unta. Pada waktu darurat, unta tua akan disembelih atau sebatang kayu akan dirogohkan ke dalam mulutnya supaya memuntahkan air. Jika seekor unta telah diberi minum sehari atau dua hari sebelumnya, maka air yang ia muntahkan bisa diminum. Peran penting unta dalam kehidupan ekonomi di kawasan semenanjung tercermin dari kenyataan bahwa bahasa Arab memiliki sekitar seribu sebutan untuk unta berikut jenis keturunan dan tahap perkembangannya, jumlah yang hanya bisa ditandingi oleh kata sinonim untuk pedang. Unta Arab bisa berjalan selama kurang lebih 25 hari pada musim dingin, dan sekitar lima hari pada musim panas tanpa diberi minum. Unta merupakan faktor yang mempermudah penaklukkan orang-orang Islam terdahulu karena bisa bergerak lebih cepat sehingga mereka lebih unggul disbanding orang-orang taklukannya yang hidup di perkotaan. Diriwayatkan bahwa Khalifah ‘Umar pernah berkata, “kemakmuran orang Arab bergantung pada kesehatan unta-untanya.” Kawasan Semenanjung masih tetap menjadi pusat pembiakan unta yang terkenal di dunia. Kuda-kuda Nejed, keledai Hasa, dan unta berpunuk tunggal dari Oman dikenal di seluruh dunia. Pada masa lalu, pencarian mutiara di Oman dan kawasan Teluk Persia, penambahan garam di beberapa wilayah tertentu, dan peternakan unta merupakan sumber pendapatan utama mereka. Tetapi sejak dimulainya eksplorasi lading minyak pada 1933, aktivitas besar-besaran yang terkait dengan industry perminyakan telah menjadi sumber pendapatan terbesar. Ladang-ladang minyak di Hasa termasuk di antara ladang minyak terkaya di dunia (Hitti, 2002: 26-27).

Dari barat lau Semenanjung Arab, seperti halnya kuda yang merupakan hewan asli Amerika, unta mulai diperkenalkan ke Palestina dan Suriah ketika terjadi penyerbuan bangsa Madyan pada abad ke-11 SM (Perjanjian Lama, Kitab Hakim-Hakim 6: 5, lihat juga Kitab Kejadian 24: 64). Peristiwa itu merupakan rujukan paling awal tentang penggunaan hewan itu dalam skala yang luas. Unta diperkenalkan ke Mesir melalui penaklukan bangsa Assyria pada abad ketujuh S.M., dan ke Afrika Utara bersamaan dengan penaklukan umat Islam pada abad ke-7 Masehi (Hitti, 2002: 27).

2.  Latar Belakang Terjadinya Perang Badar

Setelah kaum Quraisy merampas harta kekayaan kaum muslimin yang berhijrah ke Madinah, dan seserius mungkin mereka memikirkan upaya untuk melindungi perdagangan mereka ke Syam dari kaum muslimin yang telah menghimpun kekuatan di Madinah, kaum muslimin juga memikirkan upaya untuk menahan langkah mereka membawa kekayaan tersebut. Sehingga terjadilah perang Badar Kubra pada 17 Ramadhan 2 H atau 13 Maret 634 M. Ketika kaum muslimin keluar untuk menangkap dan manahan kafilah Quraisy. Mereka mengawali perang ini dengan cara menguasai perekonomian kaum Quraisy (Abu Khalil, 2006: 234)

Perang Badar merupakan perang besar pertama dalam sejarah Islam. Terjadi pada tahun 624 M, di mana kaum Muslim melawan pasukan Quraisy yang jumlahnya tiga kali lebih banyak. Waktu itu pasukan Muslim yang bersenjatakan hanya  8 pedang, memiliki pasukan sejumlah 313 orang, 70 ekor unta, 2 ekor kuda, itu berarti bahwa mereka harus berjalan selama perang. Jika pun ingin berkendara, harus ada atau tiga sampai empat orang duduk di atas satu unta. Sementara pihak pasukan Quraisy terdiri atas 1000 pasukan bersenjata lengkap, 700 ekor unta, dan 100 ekor kuda (Iqbal, 2010: 57).

Ibn Hisyam dalam bukunya Sirah Ibn Hisyam mengambil pendapat dari Ibnu Ishaq yang berkata,”Jumlah keseluruhan kaum Muslimin dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang hadir di Perang Badar, serta diberi jatah rampasan perang dan pahala jihad kendati tidak hadir adalah tiga ratus empat belas. Rinciannya adalah sebagai berikut: 1. Dari kaum Muhajirin sebanyak delapan puluh tiga orang, 2. Dari kaum Anshar dari kaum Al-Aus sebanyak enam puluh satu orang, 3. Dari kaum Anshar dari kaum Al-Khazraj sebanyak seratus tujuh puluh orang.”

Perang ini terjadi karena Rasulullah saw. mendengar ada kafilah dagang milik kaum kafir Quraisy yang baru saja kembali dari Syam di bawah pimpinan Abu Sufyan ibn Harb. Maka, Rasulullah saw. pun mengerahkan pasukannya, dengan tujuan merampas barang perniagaan yang dibawa kafilah tersebut sebagai ganti dari harta benda umat Islam yang mereka tinggalkan di Mekah. Tetapi, rupanya sebagian Muslim merasa berat melakukan itu, meskipun ada juga sebagian lainnya yang merasa ringan. Sebab, mereka tidak pernah membayangkan umat Islam akan berperang untuk menuntut harta mereka yang ditinggalkan di Mekah (Al-Buthy, 2009: 249).

Abu Sufyan yang masih berada di tengah perjalanan menuju Mekah ternyata mengetahui rencana pasukan Muslim. Maka, ia pun mengirim Dhamdham ibn Amr al-Giffari ke Mekah untuk menyampaikan berita tersebut kepada orang-orang Quraisy, sekaligus meminta bantuan pasukan untuk menjaga barang perniagaan mereka yang masih dalam perjalanan (Al-Buthy, 2009: 249-250).

Mendengar berita itu, orang-orang Quraisy pun langsung menyiapkan pasukan. Hampir semua laki-laki Quraisy ikut angkat senjata menghadapi pasukan Muslim. Bahkan, tidak seorang pun tokoh Quraisy yang tidak ikut berangkat berperang pada saat itu, sehingga jumlah pasukan Quraisy hampir mencapai seribu orang (Al-Buthy, 2009: 250).

Ibnu Ishaq berkata,”Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menumpuh perjalanannya dari Madinah ke Makkah dengan melewati gunung Madinah, kemudian melewati Al-Aqiq, kemudian melewati Dzi Al-Hulaifah, kemudian melewati Aulatul Jaisy. Turba, kemudian melewati Malal, kemudian melewati Ghamis Al-Hamam dari Marayain, kemudia melewati Shukhairatul Yamam, kemudian melewati As-Sayalah, kemudia melewati Fajji Ar-Rauha’, kemudia melewati Syanukah. Itu adalah rute perjalanan yang biasa dijalani manusia (Ibn Hisyam, 2009: 591).

Ibnu Ishaq berkata,”Orang-orang Quraisy tetap berangkat hinga tiba di tepi lembah yang jauh (dari Madinah) tepatnya di lembah di belakang bukit pasir dan di tengah lembah, yaitu Yalyal yang terletak di antara Badar dan bukit pasir di belakang orang-orang Quraisy. Sedang Sumur Badar terletak di lembah yang dekat (dengan Madinah) di kabilah Yalyal menuju Madinah. Kemudian Allah menurunkan hujan. Lembah tersebut tanahnya lembek. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya mendapatkan air hujan yang membuat tanah menjadi padat, dan perjalanan mereka pun tidak terganggu. Sedang orang-orang Quraisy mendapatkan air, dan karenanya mereka tidak bisa berjalan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendahului orang-orang Quraisy tiba di lembah tersebut. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di air yang paling dekat dengan Badar, beliau berhenti di sana.” (Ibn Hisyam, 2009: 597-598).

3.  Lokasi-loikasi strategis di kawasan Badar.

Perang Badar sendiri diambil dari nama tempat berlangsungnya perang, yaitu sumur Badar yang terletak di lereng yang landai di bagian timur suatu lembah yang bernama Yalyal. Bagian barat lembah dipagari oleh bukit besar bernama Aqanqal (Iqbal, 2010: 61-62).

Peta Wilayah Badar
Gambar 1.1 Peta Wilayah Badar
(Sumber: Atlas Hadits: Uraian Lengkap Seputar Nama, Tempat, dan Kaum yang Disabdakan Rasulullah)



Badar merupakan perairan yang terkenal. Ia terletak di bawah Lembah Kuning di antara Mekah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Jika melakukan perjalanan ke sana dari Jar di pantai Laut Merah, menghabiskan waktu satu malam. Peristiwa hebat di sana pernah terjadi, yaitu Perang Badar besar, pada Ramadhan 2 H. Pada perang tersebut antara Badar dan Madinah terdapat 7 pos (dengan total jarak 150 km), yaitu Pos Dzatul Jaisy, Abbud, Marghah, Munsharaf, Dzatu Ajdzal, Mu’alah, dan Atsil, Badar juga merupakan suatu pos yang terdiri dari dua bagian; Badar Qital (Badar I) dan Badar Mau’id (Badar II) (Abu Khalil, 2007: 61)

Setelah dibangun jalan baru (antara Mekah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah), para pelancong (khususnya jama’ah haji) tidak melewati badar ketika melakukan perjalanan pulang-pergi antara Mekah dan Madinah (Abu Khalil, 2007: 61).

Peperangan ini adalah yang dikenal dalam sejarah Islam dengan nama Perang Badar Kubra atau Perang Badar saja. Akan tetapi, menurut para sejarawan, peperangan ini didahului oleh sebuah perang lain yang disebut Badar Shugra yang terkadang juga disebut Perang Safdan. Peperangan ini terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, namun menurut Ibnu Ishaq pada awal bulan Jumadil Ula, yaitu sepuluh hari sebelum Rasulullah saw. Memimpin pasukan ke Asyirah (Muhallawi, 2005: 237-238).

Pada perang Badar terdapat paling tidak tiga tempat penting yang berada di sekitar lokasi berkecamuknya perang. Pertama, kawasan di sekitar mata air Badar. Tempat ini adalah yang diusulkan al-Khabbab ibnul Mundzir kepada Rasulullah saw. sebagai tempat bermukim pasukan muslim. Rasulullah saw. sendiri pada awalnya cenderung memilih suatu tempat yang agak jauh dari mata air tersebut, yaitu di bagian bawahnya. Di lokasi itu, Rasulullah saw. lalu memerintahkan pasukannya untuk membuat semacam kolam kecil yang diisi penuh dengan air yang dialirkan dari mata air di dekatnya. Dengan langkah ini, pasukan muslim berkesempatan untuk minum pada saat perang tengah berkecamuk, sementara pasukan Quraisy terhalangi untuk mengambil air dari mata air tersebut (Muhallawi, 2005: 238).

Ibnu Ishaq berkata bahwa aku diberitahu oleh beberapa orang dari Bani Salamah yang berkata bahwa Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tempat ini termasuk tempat yang ditentukan Allah dan kita tidak boleh memajukannya atau mengakhirkannya. Ataukah tempat ini termasuk pendapat, perang, dan skenario perang?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Ini termasuk pendapat, perang, dan skenario perang.”Al-Hubab bin Al-Mundzir berkata,”Wahai Rasulullah, ini bukan tempat yang tepat. Pergilah bersama para sahabat hingga tiba di air yang paling dekat orang-orang Quraisy. Kita berhenti di sana, kemudian kita menutupnya, menimbunnya, membangun kolam, memenuhi kolam tersebut dengan air, kemudian kita berperang melawan orang-orang Quraisy dalam keadaan kita bisa minum, sedang mereka tida bisa minum. “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh engkau memberi pendapat yang tepat. “Kemudian Rasululllah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat pergi. Ketika tiba di air yang dekat dengan orang-orang Quraisy, beliau berhenti. Beliau perintahkan air sumur dialirkan, kemudian beliau membangun kolam di dekat sumur tersebut, memenuhinya dengan ari, dan para shabat melemparkan tempat-tempat air mereka ke kolam tersebut (Ibn Hisyam, 2009: 598).

Tempat penting selanjutnya adalah sebuah bukit kecil yang terletak di pinggir medan peperangan Badar. Di lokasi itu Rasulullah saw. mendirikan sebuah bangsal atau tenda yang beliau tempati bersama Abu Bakar sebagai pengawal. Pendirian tenda ini berdasarkan usulan Sa’’ad bin Mu’adz. Menurut pandangan mayoritas sejarawan, tenda ini telah memainkan peran penting dalam perang Badar di mana Rasulullah saw. menjadikannya sebagai tempat untuk shalat dan berdoa dengan khusyu kepada Allah swt. Dalam doanya beliau bermohon bantuan Allah swt. Berupa bala tentara dari langit. Diriwayatkan bahwa pada saat itu Rasulullah saw. juga menyatakan dalam doanya,”Ya Allah, penuhilah janji Engkau kepadaku. Ya Allah, sekiranya pada saat ini pasukan muslim kalah maka tidak akan ada lagi orang yang menyembah-Mu di seluruh permukaan bumi ini.” (Muhallawi, 2005: 238).

Adapun tempat penting terakhir adalah al-Qalib, yaitu lokasi yang dijadikan kuburan bagi pasukan kafir Quraisy yang terbunuh dalam peperangan tersebut. Rasulullah saw. memerintahkan pasukannya untuk menggali kuburan tersebut dan selanjutnya memasukkan satu per satu jenazah musuh diiringi dengan seruan syukur beliau terhadap pertolongan Allah swt. Dan kekalahan orang-orang yang menentang Islam. Jenazah pertama yang dimasukkan ke dalam lubang itu adalah jenazah Umayyah bin Khalaf. Selanjutnya diriwayatkan bahwa pada malam ketiga setelah hari dimakamkannya orang-orang musyrik tersebut, Rasulullah saw. pergi ke sana diiringi beberapa sahabat yang lain. Mereka selanjutnya berdiri di pinggir kuburan tersebut  (Muhallawi, 2005: 239).

4.  Perang Badar ditinjau dari segi geohistori.

Secara geografis, medan pertempuran Badar terletak di daerah antara Jeddah dan Mekah. Tempat ini terbagi kepada dua bagian, yaitu berpasir dan berbatu-batu. Sementara itu, wadi Badar terletak di antara dua gunung, Gunung yang pertama berada di sebelah timur bernama al-Udwatul Qashwa, sementara yang satu lagi terletak di barat dan bernama al-Udwatud Dunya. Dari arah selatan Badar juga terlihat membentang sebuah gunung lain yang disebut al-Asfal. Pada masa Rasulullah saw, di wadi Badar ini terdapat beberapa mata air yang sering dijadikan oleh para musafir dan kafilah sebagai tempat berhenti dan istirahat  (Muhallawi, 2005: 239).

Nabi saw. senantiasa melakukan penjajakan situasi dan daerah yang berkaitan dengan pertempuran, baik pra maupun pasca tempur. Sun Tzu dalam bukunya The Art of War mengatakan, “Yang menyebabkan kegagalan para panglima perang dalam melaksanakan operasi adalah karena kurangnya pengetahuan sebelumnya. Apabila anda mengenal keadaan pihak musuh dan pihak sendiri, maka kemenangan tidak perlu diragukan lagi. Tetapi jika anda mengenal keadaan cuaca dan medan peperangan, maka kemenangan itu akan lebih sempurna.” (Fauzun, 2008: 93).

Penyelidikan kekuatan dan kelemahan pihak musuh sebelum melakukan peperangan, termasuk seni dan strategi perang yang diterapkan Nabi saw. yang hampir selalu memenangkan peperangan, meski jumlah pasukan tentaranya sedikit dibandingkan pihak musuh. Data intelijen militer adalah keterangan yang sudah dinilai dan ditafsirkan mengenai keadaan atau kemungkinan musuh atau daerah operasi (termasuk cuaca dan medan), yang kemudian diambil kesimpulan-kesimpulannya. Dalam hal ini termasuk pengetahuan tentang kemampuan-kemampuan musuh yang terbaru (Fauzun, 2008: 94).

Patroli-patroli pengintai dan personel mata-mata yang dikirim oleh Nabi saw. berperan untuk mengetahui secara detail tentang kegiatan-kegiatan yang dicurigai bisa membahayakan komunitas muslim yang ada di Madinah. Khususnya untuk pengiriman sebelum perang Badar, gambaran yangmungkin muncul dari pengiriman pasukan-pasukan patroli pengintaian adalah bahwa Nabi saw. memerintahkannya tanpa ada sebab (Fauzun, 2008: 94).

Pagi harinya, hari jumat tanggal tujuh belas Ramadhan tahun kedua Hijriyah, pertempuran antara pasukan Muslim melawan pasukan musyrik pun dimulai. Rasulullah saw. mengambil segenggam batu kerikil yang kecil-kecil, kemudian melemparkannya ke arah pasukan Quraisy sambil berseru, “Buruklah wajah-wajah itu.” (Al-Buthy, 2009: 253).

Pertempuran berlangsung sengit. Tetapi kemenangan berpihak pada pasukan Muslim. Dalam perang ini, tujuh puluh orang pembesar Quraisy tewas, dan tujuh puluh orang lainnya berhasil ditawan. Adapun dari pihak Muslim, jumlah pasukan yang syahid berjumlah empat belas orang (Al-Buthy, 2009: 253).

Peta Perang Badar
Gambar 1.2 Peta Perang Badar
(Sumber: Atlas At-Tarikh Al-‘Arabi Al-Islami halaman 32)


Bagi kaum Muslim, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekah. Mekah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai (Iqbal, 2010: 63).

Pertempuran antara orang-orang Mekah dan orang-orang Madinah, kebanyakan kaum Muhajirin, terjadi di Badar, 144,5 km. sebelah barat daya Madinah, pada bulan Ramadhan 624 M. Berkat kepemimpinan Muhammad, umat Islam yang berjumlah tiga ratus orang berhasil mengalahkan seribu orang Mekah. Seberapa pun pentingnya peristiwa itu dari sudut pandang militer, Perang Badar telah menjadi landasan kekuatan kepemimpinan Muhammad. Islam telah memperoleh kemenangan militer yang pertama dan menentukan (Hitti, 2002: 146).

Perang Badar merupakan perang yang memanfaatkan kondisi geografi alam untuk mencapai sebuah kemenangan. Hal ini dibuktikan dengan pemilihan tempat dari kaum muslimin yang memilih tempat di wilayah yang dekat dengan mata air. Setelah kaum muslimin menguasai wilayah mata air, mereka juga menutup sumur yang dekat dengan pihak Quraisy yang menjadi lawan mereka. Sehingga ketika kaum Quraisy datang ke medan pertempuran, mereka datang dengan kondisi kehausan dan tidak memperoleh pasokan air minum karena sumur yang dekat dengan mereka telah ditutup oleh kaum muslimin.

Akhirnya kaum Quraisy bertempur dengan kaum muslimin dengan kondisi kehausan sehingga hal ini juga merupakan keuntungan bagi pihak kaum muslimin. Kaum muslimin dengan jumlah sedikit yaitu sekitar 314 orang akhirnya mampu mengalahkan pihak Quraisy yang berjumlah sekitar 1000 orang.

DAFTAR RUJUKAN


  • Abu Khalil, Syauqi. 2006. Atlas Al-Qur’an: Mengungkap Misteri Kebesaran al-Qur’an. Jakarta: Penerbit Almahira.
  • Abu Khalil, Syauqi. 2007. Atlas Hadits: Uraian Lengkap Seputar Nama, Tempat, dan Kaum yang Disabdakan Rasulullah. Jakarta: Penerbit Almahira.
  • Abû Khalîl, Syauqîy. 2002. Atlas At-Tarikh Al-‘Arabi Al-Islami. Damaskus: Dâr Al-Fikr.
  • Abû Khalîl, Syauqîy. 2005. Atlas Al-Hadîts An-Nabawîy min Al-Kutub Al-Sittah. Damaskus: Dâr Al-Fikr.
  • Al-Buthy, Said Ramadhan. 2009. Fikih Sirah: Hikmah Tersirat dalam Lintas Sejarah Hidup Rasulullah Saw. Jakarta: Penerbit Hikmah.
  • Hitti, Philip K. 2002. History of The Arabs. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
  • Ibn Hisyam, Abdul Malik. 2009. Sirah Ibn Hisyam. Jakarta: Darul Falah.
  • Iqbal, Akhmad. 2010. Perang-Perang Paling Berpengaruh di Dunia. Yogyakarta: Penerbit Jogja Bangkit Publisher.
  • Jamal, Fauzun. 2008. Intelijen Nabi: Melacak Jaringan Intelijen Militer dan Sipil Pada Masa Rasulullah. Jakarta: Pustaka Oasis.
  • Muhallawi, Hanafi. 2005. Tempat-Tempat Bersejarah Dalam Kehidupan Rasulullah. Jakarta: Gema Insani Press.(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Perang Badar : Hikmah di Baliknya

4:25 PM 0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Perang Badar : Hikmah di Baliknya -
Saudaraku sesama muslim…
Marilah sejenak kita melakukan kilas balik terhadap berbagai peristiwa di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Kita berharap mudah-mudahan dengan mempelajari dan mengamati peristiwa ini, kita bisa mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan kita sehari-hari. Dua tahun setelah Nabi kita tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke madinah, bertepatan dengan bulan Ramadhan yang mulia ini, terjadilah satu peristiwa besar namun sering dilupakan kaum muslimin. Peristiwa tersebut adalah perang Badar.

Perang Badar
Perang Badar


Perang Badar : Hikmah di Baliknya 

Disebut sebagai peristiwa besar, karena perang Badar merupakan awal perhelatan senjata dalam kapasitas besar yang dilakukan antara pembela Islam dan musuh Islam. Saking hebatnya peristiwa ini, Allah namakan hari teradinya peristiwa tersebut dengan Yaum Al Furqan (hari pembeda) karena pada waktu itu, Allah, Dzat yang menurunkan syariat Islam, hendak membedakan antara yang haq dengan yang batil. Di saat itulah Allah mengangkat derajat kebenaran dengan jumlah kekuatan yang terbatas dan merendahkan kebatilan meskipun jumlah kekuatannya 3 kali lipat. Allah menurunkan pertolongan yang besar bagi kaum muslimin dan memenangkan mereka di atas musuh-musuh Islam.

Sungguh sangat disayangkan, banyak di antara kaum muslimin di masa kita melalaikan kejadian bersejarah ini. Padahal, dengan membaca peristiwa ini, kita dapat mengingat sejarah para shahabat yang mati-matian memperjuangkan Islam, yang dengan itu, kita bisa merasakan indahnya agama ini.

Sebelum melanjutkan tulisan, kami mengingatkan bawa tujuan tulisan bukanlah mengajak anda untuk mengadakan peringatan hari perang badar, demikian pula tulisan tidak mengupas sisi sejarahnya, karena ini bisa didapatkan dengan merujuk buku-buku sejarah. Tulisan ini hanya mencoba mengajak pembaca untuk merenungi ibrah dan pelajaran berharga di balik serpihan-serpihan sejarah perang Badar.

Latar Belakang Perang Badar

Perang Badar
Perang Badar


Suatu ketika terdengarlah kabar di kalangan kaum muslimin Madinah bahwa Abu Sufyan beserta kafilah dagangnya, hendak berangkat pulang dari Syam menuju Mekkah. Jalan mudah dan terdekat untuk perjalanan Syam menuju Mekkah harus melewati Madinah. Kesempatan berharga ini dimanfaatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat untuk merampas barang dagangan mereka. Harta mereka menjadi halal bagi kaum muslimin. Mengapa demikian? Bukankah harta dan darah orang kafir yang tidak bersalah itu haram hukumnya?

Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan harta Orang kafir Quraisy tersebut halal bagi para shahabat:

Orang-orang kafir Quraisy statusnya adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang secara terang-terangan memerangi kaum muslimin, mengusir kaum muslimin dari tanah kelahiran mereka di Mekah, dan melarang kaum muslimin untuk memanfaatkan harta mereka sendiri.
Tidak ada perjanjian damai antara kaum muslimin dan orang kafir Quraisy yang memerangi kaum muslimin.
Dengan alasan inilah, mereka berhak untuk menarik kembali harta yang telah mereka tinggal dan merampas harta orang musyrik.

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama tiga ratus sekian belas shahabat. Para ahli sejarah berbeda pendapat dalam menentukan jumlah pasukan kaum muslimin di perang badar. Ada yang mengatakan 313, 317, dan beberapa pendapat lainnya. Oleh karena itu, tidak selayaknya kita berlebih-lebihan dalam menyikapi angka ini, sehingga dijadikan sebagai angka idola atau angka keramat, semacam yang dilakukan oleh LDII yang menjadikan angka 313 sebagai angka keramat organisasi mereka dengan anggapan bahwa itu adalah jumlah pasukan Badar.

Di antara tiga ratus belasan pasukan itu, ada dua penunggang kuda dan 70 onta yang mereka tunggangi bergantian. 70 orang di kalangan Muhajirin dan sisanya dari Anshar.

Sementara di pihak lain, orang kafir Quraisy ketika mendengar kabar bahwa kafilah dagang Abu Sufyan meminta bantuan, dengan sekonyong-konyong mereka menyiapkan kekuatan mereka sebanyak 1000 personil, 600 baju besi, 100 kuda, dan 700 onta serta dengan persenjataan lengkap. Berangkat dengan penuh kesombongan dan pamer kekuatan di bawah pimpinan Abu Jahal.

Allah Berkehendak Lain dalam Perang Badar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para shahabat keluar dari Madinah dengan harapan dapat menghadang kafilah dagang Abu Sufyan. Merampas harta mereka sebagai ganti rugi terhadap harta yang ditinggalkan kaum muhajirin di Makah. Meskipun demikian, mereka merasa cemas bisa jadi yang mereka temui justru pasukan perang. Oleh karena itu, persenjataan yang dibawa para shahabat tidaklah selengkap persenjataan ketika perang. Namun, Allah berkehendak lain. Allah mentakdirkan agar pasukan tauhid yang kecil ini bertemu dengan pasukan kesyirikan. Allah hendak menunjukkan kehebatan agamanya, merendahkan kesyirikan. Allah gambarkan kisah mereka dalam firmanNya:

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjata-lah yang untukmu (kamu hadapi, pent. Yaitu kafilah dagang), dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (Qs. Al Anfal: 7)

Perang Badar
Perang Badar


Demikianlah gambaran orang shaleh. Harapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat tidak terwujud. Mereka menginginkan harta kafilah dagang, tetapi yang mereka dapatkan justru pasukan siap perang. Kenyataan ini memberikan pelajaran penting dalam masalah aqidah bahwa tidak semua yang dikehendaki orang shaleh selalu dikabulkan oleh Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang mampu mengendalikan keinginan Allah. Sehebat apapun keshalehan seseorang, setinggi apapun tingkat kiyai seseorang sama sekali tidak mampu mengubah apa yang Allah kehendaki.

Keangkuhan Pasukan Iblis dalam Perang Badar

Ketika Abu Sufyan berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan kaum muslimin, dia langsung mengirimkan surat kepada pasukan Mekkah tentang kabar dirinya dan meminta agar pasukan Mekkah kembali pulang. Namun, dengan sombongnya, gembong komplotan pasukan kesyirikan enggan menerima tawaran ini. Dia justru mengatakan,

“Demi Allah, kita tidak akan kembali sampai kita tiba di Badar. Kita akan tinggal di sana tiga hari, menyembelih onta, pesta makan, minum khamr, mendengarkan dendang lagu biduwanita sampai masyarakat jazirah arab mengetahui kita dan senantiasa takut kepada kita…”

Keangkuhan mereka ini Allah gambarkan dalam FirmanNya,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan…” (Qs. Al-Anfal: 47)

Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu di bawah pengaturan Allah, karena ditutupi dengan kesombongan mereka. Mereka tidak sadar bahwa Allah kuasa membalik keadaan mereka. Itulah gambaran pasukan setan, sangat jauh dari kerendahan hati dan tawakal kepada Yang Kuasa.

Kesetiaan yang Tiada Tandingnya dalam Perang Badar

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa yakin bahwa yang nantinya akan ditemui adalah pasukan perang dan bukan kafilah dagang, beliau mulai cemas dan khawatir terhadap keteguhan dan semangat shahabat. Beliau sadar bahwa pasukan yang akan beliau hadapi kekuatannya jauh lebih besar dari pada kekuatan pasukan yanng beliau pimpin. Oleh karena itu, tidak heran jika ada sebagian shahabat yang merasa berat dengan keberangkatan pasukan menuju Badar. Allah gambarkan kondisi mereka dalam firmanNya,

كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ

“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (Qs. Al Anfal: 5)

Sementara itu, para komandan pasukan Muhajirin, seperti Abu Bakr dan Umar bin Al Khattab sama sekali tidak mengendor, dan lebih baik maju terus. Namun, ini belum dianggap cukup oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau masih menginginkan bukti konkret kesetiaan dari shahabat yang lain. Akhirnya, untuk menghilangkan kecemasan itu, beliau berunding dengan para shahabat, meminta kepastian sikap mereka untuk menentukan dua pilihan: (1) tetap melanjutkan perang apapun  kondisinya, ataukah (2) kembali ke madinah.

Majulah Al Miqdad bin ‘Amr seraya berkata, “Wahai Rasulullah, majulah terus sesuai apa yang diperintahkan Allah kepada anda. Kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa: ‘Pergi saja kamu, wahai Musa bersama Rab-mu (Allah) berperanglah kalian berdua, kami biar duduk menanti di sini saja. [1]'” Kemudian Al Miqdad melanjutkan: “Tetapi pegilah anda bersama Rab anda (Allah), lalu berperanglah kalian berdua, dan kami akan ikut berperang bersama kalian berdua. Demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, andai anda pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, kamipun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa mencapai tempat itu.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan komentar yang baik terhadap perkataan Al Miqdad dan mendo’akan kebaikan untuknya. Selanjutnya, majulah Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu, komandan pasukan kaum anshar.

Sa’ad mengatakan, “Kami telah beriman kepada Anda. Kami telah membenarkan Anda. Andaikan Anda bersama kami terhalang lautan lalu Anda terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama Anda….” Sa’ad radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan, “Boleh jadi Anda khawatir, jangan-jangan kaum Anshar tidak mau menolong Anda kecuali di perkampungan mereka (Madinah). Sesungguhnya aku berbicara dan memberi jawaban atas nama orang-orang anshar. Maka dari itu, majulah seperti yang Anda kehendaki….”

Di Sudut Malam yang Menyentuh Jiwa dalam Perang Badar

Pada malam itu, malam jum’at 17 Ramadhan 2 H, Nabi Allah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak mendirikan shalat di dekat pepohonan. Sementara Allah menurunkan rasa kantuk kepada kaum muslimin sebagai penenang bagi mereka agar bisa beristirahat. Sedangkan kaum musyrikin di pihak lain dalam keadaan cemas. Allah menurunkan rasa takut kepada mereka. Adapun Beliau senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah. Memohon pertolongan dan bantuan dari-Nya. Di antara do’a yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang-ulang adalah,

“…Ya Allah, jika Engkau berkehendak (orang kafir menang), Engkau tidak akan disembah. Ya Allah, jika pasukan yang kecil ini Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah…..”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang do’a ini sampai selendang beliau tarjatuh karena lamanya berdo’a, kemudian datanglah Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memakaikan selendang beliau yang terjatuh sambil memeluk beliau… “Cukup-cukup, wahai Rasulullah…”

Tentang kisah ini, diabadikan Allah dalam FirmanNya,

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (12) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (13)

“Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (Qs. Al Anfal: 12-13)

Bukti kemukjizatan Nabi dalam Perang Badar

Seusai beliau menyiapkan barisan pasukan shahabatnya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan di tempat pertempuran dua pasukan. Kemudian beliau berisyarat, “Ini tempat terbunuhnya fulan, itu tempat matinya fulan, sana tempat terbunuhnya fulan….”

Tidak satupun orang kafir yang beliau sebut namanya, kecuali meninggal tepat di tempat yang diisyaratkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bara Peperangan Mulai Menyala dalam Perang Badar

Yang pertama kali menyulut peperangan adalah Al Aswad Al Makhzumi, seorang yang berperangai kasar dan akhlaknya buruk. Dia keluar dari barisan orang kafir sambil menantang. Kedatangannya langsung disambut oleh Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu ‘anhu. Setelah saling berhadapan, Hamzah radhiyallahu ‘anhu langsung menyabet pedangnya hingga kaki Al Aswad Al Makhzumi putus. Setelah itu, Al Aswad merangkak ke kolam dan tercebur di dalamnya. Kemudian Hamzah menyabetkan sekali lagi ketika dia berada di dalam kolam. Inilah korban Badar pertama kali yang menyulut peperangan.

Selanjutnya, muncul tiga penunggang kuda handal dari kaum Musyrikin. Ketiganya berasal dari satu keluarga. Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah, dan anaknya Al Walid bin Utbah. Kedatangan mereka ditanggapi 3 pemuda Anshar, yaitu Auf bin Harits, Mu’awwidz bin Harits, dan Abdullah bin Rawahah. Namun, ketiga orang kafir tersebut menolak adu tanding dengan tiga orang Anshar dan mereka meminta orang terpandang di kalangan Muhajirin. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Ali, Hamzah, dan Ubaidah bin Harits untuk maju. Ubaidah berhadapan dengan Al Walid, Ali berhadapan dengan Syaibah, dan Hamzah berhadapan dengan Utbah. Bagi Ali dan Hamzah, menghadapi musuhnya tidak ada kesulitan. Lain halnya dengan Ubaidah. Masing-masing saling melancarkan serangan, hingga masing-masing terluka. Kemudian lawan Ubaidah dibunuh oleh Ali radhiyallahu ‘anhu. Atas peritiwa ini, Allah abadikan dalam firmanNya,

هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka (Allah)…” (Qs. Al Hajj: 19)

Selanjutnya, bertemulah dua pasukan. Pertempuran-pun terjadi antara pembela Tauhid dan pembela syirik. Mereka berperang karena perbedaan prinsip beragama, bukan karena rebutan dunia. Sementara itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tenda beliau, memberikan komando terhadap pasukan. Abu Bakar dan Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhuma bertugas menjaga beliau. Tidak pernah putus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melantunkan do’a dan memohon bantuan dan pertolongan kepada Allah. Terkadang beliau keluar tenda dan mengatakan, “Pasukan (Quraisy) akan dikalahkan dan ditekuk mundur…”

Beliau juga senantiasa memberi motivasi kepada para shahabat untuk berjuang. Beliau bersabda, “Demi Allah, tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, kemudian dia terbunuh dengan sabar dan mengharap pahala serta terus maju dan pantang mundur, pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”

Tiba-tiba berdirilah Umair bin Al Himam Al Anshari sambil membawa beberapa kurma untuk dimakan, beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah surga lebarnya selebar langit dan bumi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Kemudian Umair mengatakan: “Bakh…Bakh… (ungkapan kaget). Wahai Rasulullah, antara diriku dan aku masuk surga adalah ketika mereka membunuhku. Demi Allah, andaikan saya hidup harus makan kurma dulu, sungguh ini adalah usia yang terlalu panjang. Kemudian beliau melemparkan kurmanya, dan terjun ke medan perang sampai terbunuh.”

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke barisan musuh. Sehingga tidak ada satu pun orang kafir kecuali matanya penuh dengan pasir. Mereka pun sibuk dengan matanya sendiri-sendiri, sebagai tanda kemukjizatan Beliau atas kehendak Dzat Penguasa alam semesta.

Kuatnya Pengaruh Teman Dekat Dalam Hidup di Perang Badar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk membunuh Abul Bakhtari. Karena ketika di Mekkah, dia sering melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang memiliki inisiatif untuk menggugurkan boikot pada Bani Hasyim. Suatu ketika Al Mujadzar bin Ziyad bertemu dengannya di tengah pertempuran. Ketika, itu Abul Bakhtari bersama rekannya. Maka, Al Mujadzar mengatakan, “Wahai Abul Bakhtari, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk membunuhmu.”

“Lalu bagaimana dengan temanku ini?”, tanya Abul Bakhtari
“Demi Allah, kami tidak akan membiarkan temanmu.” Jawab Al Mujadzar.

Akhirnya mereka berdua melancarkan serangan, sehingga dengan terpaksa Al Mujadzar membunuh Abul Bakhtari.

Kemenangan Bagi Kaum Muslimin dalam Perang Badar

Singkat cerita, pasukan musyrikin terkalahkan dan terpukul mundur. Pasukan kaum muslimin berhasil membunuh dan menangkap beberapa orang di antara mereka. Ada tujuh puluh orang kafir terbunuh dan tujuh puluh yang dijadikan tawanan. Di antara 70 yang terbunuh ada 24 pemimpin kaum Musyrikin Quraisy yang diseret dan dimasukkan ke dalam lubang-lubang di Badar. Termasuk diantara 24 orang tersebut adalah Abu Jahal, Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah dan anaknya, Al Walid bin Utbah.

Demikianlah perang badar, pasukan kecil mampu mengalahkan pasukan yang lebih besar dengan izin Allah. Allah berfirman,

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“…Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al Baqarah: 249)

Mereka…
Mereka menang bukan karena kekuatan senjata
Mereka menang bukan karena kekuatan jumlah personilnya
Mereka MENANG karena berperang dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan membela agamaNya…
Allahu Al Musta’an…

Footnote:
[1] Perkataan Al Miqdad radhiyallahu ‘anhu ini merupakan cuplikan dari firman Allah surat Al Maidah: 24

***

Penulis: Ammi Nur Baits
Artikel www.muslim.or.id
(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Fathu Makkah

4:14 PM 0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Fathu Makkah - Episode berikutnya dalam sejarah kemenangan kaum muslimin di bawah bimbingan kenabian yang terjadi di bulan Ramadhan adalah Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah). Peristiwa ini terjadi pada tahun delapan Hijriyah. Dengan peristiwa ini, Allah menyelamatkan kota Makkah dari belenggu kesyirikan dan kedhaliman, menjadi kota bernafaskan Islam, dengan ruh tauhid dan sunnah. Dengan peristiwa ini, Allah mengubah kota Makkah yang dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota yang merupakan lambang keimanan dan kepasrahan kepada Allah ta’ala.

Fathu Makkah
Fathu Makkah


Sebab Terjadinya Fathu Makkah

Diawali dari perjanjian damai antara kaum muslimin Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangani pada nota kesepakatan Shulh Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Termasuk diantara nota perjanjian adalah siapa saja diizinkan untuk bergabung dengan salah satu kubu, baik kubu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan kaum muslimin Madinah atau kubu orang kafir Quraisy Makkah. Maka, bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan suku Bakr bergabung di kubu orang kafir Quraisy. Padahal, dulu di zaman Jahiliyah, terjadi pertumpahan darah antara dua suku ini dan saling bermusuhan. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan senjata. Namun, secara licik, Bani Bakr menggunakan kesempatan ini melakukan balas dendam kepada suku Khuza’ah. Bani Bakr melakukan serangan mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah ketika mereka sedang di mata air mereka. Secara diam-diam, orang kafir Quraisy mengirimkan bantuan personil dan senjata pada Bani Bakr. Akhirnya, datanglah beberapa orang diantara suku Khuza’ah menghadap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dan Bani Bakr.

Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, orang kafir Quraisy pun mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, namun beliau tidak menanggapinya dan tidak memperdulikannya. Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar radliallahu ‘anhuma agar mereka memberikan bantuan untuk membujuk Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Namun usahanya ini gagal. Terakhir kalinya, dia menemui Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar memberikan pertolongan kepadanya di hadapan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Untuk kesekian kalinya, Ali pun menolak permintaan Abu Sufyan. Dunia terasa sempit bagi Abu Sufyan, dia pun terus memelas agar diberi solusi. Kemudian, Ali memberikan saran, “Demi Allah, aku tidak mengetahui sedikit pun solusi yang bermanfaat bagimu. Akan tetapi, bukankah Engkau seorang pemimpin Bani Kinanah? Maka, bangkitlah dan mintalah sendiri perlindungan kepada orang-orang. Kemudian, kembalilah ke daerahmu.”

Abu Sufyan berkata,
“Apakah menurutmu ini akan bermanfaat bagiku?”

Ali menjawab,
“Demi Allah, aku sendiri tidak yakin, tetapi aku tidak memiliki solusi lain bagimu.”

Abu Sufyan kemudian berdiri di masjid dan berkata,
“Wahai manusia, aku telah diberi perlindungan oleh orang-orang!”
Lalu dia naik ontanya dan beranjak pergi.

Dengan adanya pengkhianatan ini, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan para shahabat untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang. Beliau mengajak semua shahabat untuk menyerang Makkah. Beliau barsabda, “Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”

Dalam kisah ini ada pelajaran penting yang bisa dipetik, bahwa kaum muslimin dibolehkan untuk membatalkan perjanjian damai dengan orang kafir. Namun pembatalan perjanjian damai ini harus dilakukan seimbang. Artinya tidak boleh sepihak, tetapi masing-masing pihak tahu sama tahu. Allah berfirman,

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

“Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan sama-sama tahu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Qs. Al Anfal: 58)

Kisah Hatib bin Abi Balta’ah pada Fathu Makkah

Untuk menjaga misi kerahasiaan ini, Rasulullah mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah pada awal bulan Ramadhan. Hal ini beliau lakukan agar ada anggapan bahwa beliau hendak menuju ke tempat tersebut. Sementara itu, ada seorang shahabat Muhajirin, Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat untuk dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Surat ini beliau titipkan kepada seorang wanita dengan upah tertentu dan langsung disimpan di gelungannya. Namun, Allah Dzat Yang Maha Melihat mewahyukan kepada NabiNya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliau-pun mengutus Ali dan Al Miqdad untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.

Setelah Ali berhasil menyusul wanita tersebut, beliau langsung meminta suratnya. Namun, wanita itu berbohong dan mengatakan bahwa dirinya tidak membawa surat apapun. Ali memeriksa hewan tunggangannya, namun tidak mendapatkan apa yang dicari. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam tidak bohong. Demi Allah, engkau keluarkan surat itu atau kami akan menelanjangimu.”

Setelah tahu kesungguhan Ali radhiyallahu ‘anhu, wanita itupun menyerahkan suratnya kepada Ali bin Abi Thalib.

Sesampainya di Madinah, Ali langsung menyerahkan surat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Dalam surat tersebut tertulis nama Hatib bin Abi Balta’ah. Dengan bijak Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menanyakan alasan Hatib. Hatib bin Abi Balta’ah pun menjawab:

“Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama Anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana.”

Dengan serta merta Umar bin Al Khattab menawarkan diri,

“Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan RasulNya serta bersikap munafik.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan bijak menjawab,
“Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar… (Allah berfirman tentang pasukan Badar): Berbuatlah sesuka kalian, karena kalian telah Saya ampuni.”

Umar pun kemudian menangis, sambil mengatakan, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.”

Demikianlah maksud hati Hatib. Beliau berharap dengan membocorkan rahasia tersebut bisa menarik simpati orang Quraisy terhadap dirinya, sehingga mereka merasa berhutang budi terhadap Hatib. Dengan keadaan ini, beliau berharap orang Quraisy mau melindungi anak dan istrinya di Makkah. Meskipun demikian, perbuatan ini dianggap sebagai bentuk penghianatan dan dianggap sebagai bentuk loyal terhadap orang kafir karena dunia. Tentang kisah shahabat Hatib radhiyallahu ‘anhu ini diabadikan oleh Allah dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….” (Qs. Al Mumtahanah: 1)

Satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu adalah bahwa sesungguhnya orang yang memberikan loyalitas terhadap orang kafir sampai menyebabkan ancaman bahaya terhadap Islam, pelakunya tidaklah divonis kafir, selama loyalitas ini tidak menyebabkan kecintaan karena agamanya. Pada ayat di atas, Allah menyebut orang yang melakukan tindakan semacam ini dengan panggilan, “Hai orang-orang yang beriman……” Ini menunjukkan bahwa status mereka belum kafir.

Pasukan Islam Bergerak Menuju Makkah

Kemudian, beliau keluar Madinah bersama sepuluh ribu shahabat yang siap perang. Beliau memberi Abdullah bin Umi Maktum tugas untuk menggantikan posisi beliau di Madinah. Di tengah jalan, beliau bertemu dengan Abbas, paman beliau bersama keluarganya, yang bertujuan untuk berhijrah dan masuk Islam. Kemudian, di suatu tempat yang disebut Abwa’, beliau berjumpa dengan sepupunya, Ibnul Harits dan Abdullah bin Abi Umayah. Ketika masih kafir, dua orang ini termasuk diantara orang yang permusuhannya sangat keras terhadap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Dengan kelembutannya, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menerima taubat mereka dan masuk Islam.

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda tentang Ibnul Harits radhiyallahu ‘anhu, “Saya berharap dia bisa menjadi pengganti Hamzah –radhiyallahu ‘anhu-“.

Setelah beliau sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah, beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan. Beliau juga mengangkat Umar radhiyallahu ‘anhu sebagai penjaga.

Malam itu, Abbas berangkat menuju Makkah dengan menaiki bighal (peranakan kuda dan keledai) milik Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau mencari penduduk Makkah agar mereka keluar menemui Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan meminta jaminan keamanan, sehingga tidak terjadi peperangan di negeri Makkah. Tiba-tiba Abbas mendengar suara Abu Sufyan dan Budail bin Zarqa’ yang sedang berbincang-bincang tentang api unggun yang besar tersebut.

“Ada apa dengan dirimu, wahai Abbas?” tanya Abu Sufyan

“Itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam di tengah-tengah orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy. Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung bighal ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, lalu meminta jaminan keamanan kepada beliau!” jawab Abbas.

Maka, Abu Sufyan pun naik di belakangku. Kami pun menuju tempat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Ketika melewati obornya Umar bin Khattab, dia pun melihat Abu Sufyan. Dia berkata,

“Wahai Abu Sufyan, musuh Allah, segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian-pun. Karena khawatir, Abbas mempercepat langkah bighalnya agar dapat mendahului Umar. Mereka pun langsung masuk ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Setelah itu, barulah Umar masuk sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.”

Abbas pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Kembalilah ke kemahmu wahai Abbas! Besok pagi, datanglah ke sini!”

Esok harinya, Abbas bersama Abu Sufyan menemui Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau bersabda,”Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?”

Abu Sufyan mengatakan,
“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan selain Allah, tentu aku tidak membutuhkan sesuatu apa pun setelah ini.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,”Celaka kamu wahai Abu Sufyan, bukankah sudah saatnya kamu mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?”

Abu Sufyan menjawab,”Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.”

Abbas menyela, “Celaka kau! Masuklah Islam! Bersaksilah laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!”

Akhirnya Abu Sufyan-pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar.

Tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah. Sebelum berangkat, beliau memerintahkan Abbas untuk mengajak Abu Sufyan menuju jalan tembus melewati gunung, berdiam di sana hingga semua pasukan Allah lewat di sana. Dengan begitu, Abu Sufyan bisa melihat semua pasukan kaum muslimin. Maka Abbas dan Abu Sufyan melewati beberapa kabilah yang ikut gabung bersama pasukan kaum muslimin. Masing-masing kabilah membawa bendera. Setiap kali melewati satu kabilah, Abu Sufyan selalu bertanya kepada Abbas, “Kabilah apa ini?” dan setiap kali dijawab oleh Abbas, Abu Sufyan senantiasa berkomentar, “Aku tidak ada urusan dengan bani Fulan.”

Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?”

Abbas menjawab: “Itu adalah Rasulullah bersama muhajirin dan anshar.”

Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.”

Abbas berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah Nubuwah.”

Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata,
“Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”

Ketika ketemu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, perkataan Sa’ad ini disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau pun menjawab,

“Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan agar bendera di tangan Sa’d diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata bendera itu tetap di tangan Sa’d. Ada yang mengatakan bendera tersebut diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’ beliau kepada Sang Pengatur alam semesta. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (Qs. Al Fath: 1)

Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah,
“Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”

Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’: 81)

جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Qs. Saba’: 49)

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memasuki Ka’bah. Beliau melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah ramalan.

Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”

Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu keputusan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam.

Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau bersabda:

“لا إِله إِلاَّ الله وحدَّه لا شريكَ له، لَهُ المُلْكُ وله الحمدُ وهو على كَلِّ شَيْءٍ قديرٌ، صَدَقَ وَعْدَه ونَصرَ عَبْدَه وهَزمَ الأحزابَ وحْدَه

“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Merekapun menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”

Beliau bersabda,
“Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”

Pada hari kedua, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia. Setelah membaca tahmid beliau bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah. Maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah dan mematahkan batang pohon di sana. Jika ada orang yang beralasan dengan perang yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, maka jawablah: “Sesungguhnya Allah mengizinkan RasulNya shallallahu ‘alahi wa sallam dan tidak mengizinkan kalian. Allah hanya mengizinkan untukku beberapa saat di siang hari. Hari ini Keharaman Makkah telah kembali sebagaimana keharamannya sebelumnya. Maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam diizinkan Allah untuk berperang di Makkah hanya pada hari penaklukan kota Makkah dari sejak terbit matahari hingga ashar. Beliau tinggal di Makkah selama sembilan hari dengan selalu mengqashar shalat dan tidak berpuasa Ramadhan di sisa hari bulan Ramadhan.

Sejak saat itulah, Makkah menjadi negeri Islam, sehingga tidak ada lagi hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Demikianlah kemenangan yang sangat nyata bagi kaum muslimin. Telah sempurna pertolongan Allah. Suku-suku arab berbondong-bondong masuk Islam. Demikianlah karunia besar yang Allah berikan.

***

Penulis: Ammi Nur Baits
Artikel www.muslim.or.id(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين