Perang Badar Ditinjau dari Segi Geohistori

5:36 PM
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Perang Badar Ditinjau dari Segi Geohistori 

1. Kondisi Geografis Semenanjung Arab


Semenanjung Arab merupakan semenanjung barat daya Asia, sebuah semenanjung terbesar dalam peta dunia. Wilayahnya, dengan luas 1.745.900 km2 , dihuni oleh sekitar empat belas juta jiwa. Arab Saudi, dengan luas daratan sekitar 1.014.900 km2 (tidak termasuk al-Rab al-Khalî), berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa, Yaman lima juta jiwa; dan selebihnya tinggal di Kuwait, Qatar, Emirat Arab, Oman dan Masqat, dan Aden. Para ahli geologi mengatakan bahwa wilayah itu pada awalnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dataran Sahara (kini dipisahkan oleh lembah Nil dan Laut Merah) dan kawasan berpasir yang menyambungkan Asia melalui Persia bagian tengah ke Gurun Gobi. Dahulu kala, arus laut Samudera Atlantik dari barat, yang kini menjadi sumber hujan bagi dataran tinggi Suriah-Palestina, pasti pernah juga menjadi sumber hujan bagi kawasan Semenanjung Arab. Dan selama satu periode tertentu pada Abad Es, daerah-daerah gurun itu merupakan padang rumput yang bisa dihuni manusia. Karena pencairan es tidak pernah mencapai lebih jauh dari bagian selatan pegunungan Asia Kecil, Semenanjung Arab tetap menjadi wilayah yang bisa dihuni karena tidak tersentuh glasiasi. Dasar ceruk lembahnya yang dalam dan kering masih memperlihatkan kuatnya kikisan air hujan yang pernah mengalir melalui ceruk itu. Daerah perbatasan di sebelah utara tidak bisa digambarkan dengan baik, tapi bisa dipandang sebagai garis imajiner yang mengarah ke timur dari ujung Teluk ‘Aqabah di Laut Merah menuju Efrat. Jadi, secara geologis seluruh gurun Suriah-Mesopotamia merupakan bagian dari Semenanjung Arab (Hitti, 2002: 16-17).

Dataran Semenanjung Arab menurun dari barat ke Teluk Persia dan dataran rendah Mesopotamia. Tulang punggun semenanjung ini merupakan gugusan pegunungan yang berbaris sejajar dengan pantai sebelah barat dengan ketinggian lebih dari 9.000 kaki di Madyan di sebelah utara dan 14.000 kaki di Yaman di sebelah selatan. Gunung al-Sarâh di Hijaz mencapai ketinggian 10.000 kaki. Dari bagian tulang punggung ini, kaki gunung sebelah timur menurun dan panjang; sedangkan di sebelah barat, mengarah ke Laut Merah, curam dan pendek. Sisi selatan Semenanjung Arab, tempat air laut terus mengalami penyusutan rata-rata 72 kaki per tahun, dibingkai oleh dataran-dataran rendah, Tihamah. Nejed, dataran tinggi sebelah utara, memiliki ketinggian rata-rata 2.500 kaki. Puncak tertinggi dari gugusan pegunungannya, Syammar, merupakan pegunungan batu granit merah, Gunung Aja’, dengan ketinggian sekitar 5.55. kaki di atas permukaan laut. Di belakang dataran rendah pesisir pantai terbentang dataran dengan beragam ketinggian di ketiga sisinya. Di Oman, sebelah timur pesisir, puncak Jabal al-Akhdhar mencapai ketinggian 9.900 kaki, yang membentuk lanskap unik di tengah-tengah dataran rendah yang memanjang di bagian timur (Hitti, 2002: 17).

Kecuali pegunungan dan dataran-dataran tinggi yang disebutkan di atas, wilayah tersebut terutama terdiri atas gurun pasir dan padang tandus. Padang-padang tandus itu (bentuk tunggal, dârah) merupakan dataran luas di antara perbukitan yang tertutup pasir dan menyimpan kandungan air bawah tanah. Gurun yang biasa disebut gurun pasir Suriah, Bâdiyah al-Syâm, juga gurun pasir Mesopotamia, kebanyakan berupa dataran padang tandus. Bagian selatan gurun Suriah oleh penduduk setempat disebut al Hamâd. Bagian sebelah barat dataran padang tandus Mesopotamia sering disebut Bâdiyah al-‘Irâq atau al-Samâwah (Hitti, 2002: 17-18).

Di antara sejumlah dataran gurun di kawasan itu, terdapat tiga jenis gurun:


  1. Nufûd besar, sebuah bentangan daratan berpasir putih atau kemerahan yang menyelimuti wilayah yang sangat luas di Semenanjung Arab Utara. Sebutan klasik untuk daratan semacam itu adalah al-bâdiyah, kadang-kadang juga disebut al-dahnâ’. Meskipun berudara kering, kecuali di beberapa sumber air, pada musim dingin al-Nufûd disirami air hujan sehingga dataran itu diselimuti hamparan rerumputan yang menghijau dan berubah menjadi surge bagi kawanan unta dan domba milik suku-suku badui nomad. Beberapa penjelajah pertama dari selusin orang Eropa yang berhasil menembus kawasan Nufûd adalah seorang Prancis Alsatian, Charled Huber (1878); seorang diplomat dan penyair Inggris, Wilfrid S. Blunt (1879); dan seorang orientalis dari Strassburg, Julius Euting (1883).
  2. Al-Dahnâ’ (tanah merah), dataran berpasir merah yang membentang dari Nufûd besar di utara hingga al-Rab’ al-Khâli di selatan. Hamparan gurun pasir ini membentuk pola busur besar mengarah ke sebelah tenggara, dengan panjang lebih dari 1020 km. Bagian sebelah barat terkadang disebut al-Ahqâf (gurun pasir). Pada peta kuno, al-Dahnâ’ biasanya disebut juga al-Rab’ al-Khâli (tanah kosong). Ketika musim hujan, al-Dahnâ’ diselimuti oleh bentangan padang rumput hijau yang menarik orang-orang badui dan ternaknya selama beberapa bulan dalam setahun, tapi pada musim panas wilyah itu sepi dari denyut kehidupan. Sebelum Bertram Thomas, tidak ada orang Eropa yang pernah berupaya menyeberang al-Rab’ al-Khâli, “daerah tak berpenghuni” di Semenanjung Arab. Perusahaan minyak Arab-Amerika (ARAMCO) menggambar wilayah seluas 425.000 km2 di atas petanya. Thomas menyeberanginya selama 58 hari dari Laut Arab ke Teluk Persia dan menyaksikan fenomena pasir bernyanyi serta menemukan sebuah “danau air asin”, yang kenyataannya merupakan bagian “tangan” dari Teluk Persia di sebelah selatan Qatar. Hingga saat itu, pengetahuan kita tentang daratan kosong yang misterius dan menakutkan di Arab Selatan itu tidak lebih dari sekedar rekaan para ahli geografi abad kesepuluh.
  3.  Al-Harrah, sebuah daratan yang terbentuk dari lava bergelombang dan retak-retak di atas permukaan pasir berbatu. Bentangan daratan vulkanik jenis ini banyak dijumpai di wilayah Semenanjung sebelah barat dan tengah, dan menjorok ke utara hingga wilayah Hauran sebelah timur. Yâqût mencatat tak kurang dari tiga puluh buah Harrah. Letusan vulkanik terakhir yang diriwayatkan oleh para sejarahan Arab terjadi pada 1256 M.


Dalam lingkaran gurun pasir dan padang tandus ini terdapat dataran tinggi, Nejed, sebuah wilayah yang dihuni oleh kaum Wahabi. Di Nejed, batuan sedimen telah lama dikenal; di mana-mana bisa dijumpai wilayah sempit berpasir. Bukit Syammar terdiri atas batu-batu granit dan batuan hitam dari letusan gunung vulkanik (Hitti, 2002: 20).

Dari sisi kondisi cuaca, Semenanjung Arab merupakan salah satu wilayah terkering dan terpanas. Meskipun diapit oleh lautan di sebelah barat dan timur, laut itu terlalu kecil untuk dapat memengaruhi kondisi cuaca Afro-Asia yang jarang turun hujan. Lautan di sebelah selatan memang membawa partikel air hujan, tapi badai gurun (samûm) musiman menyapu wilayah tersebut dan hanya menyisakan sedikit kelembapan di wilayah daratan. Angin timur (al-shabâ) yang sejuk dan menyegarkan menjadi tema yang sangat disukai oleh para penyair Arab (Hitti, 2002: 20).

Di Hijaz, tempat kelahiran Islam, musim kering yang berlangsung selama tiga tahun atau lebih merupakan hal yang lumrah. Hujan badai yang singkat dan banjir yang cukup besar kadang-kadang menimpa Mekah dan Madinah, dan pernah beberapa kali hampir meruntuhkan bangunan Ka’bah; al-Balâdhuri menulis satu bab penuh untuk mengisahkan banjir bandan (suyûl) yang menyerang Mekah. Setelah hujan turun, tanaman gurun untuk makanan ternak bertumbuhan. Di sebelah utara Hijaz, oasis terpencil, yang paling besar luasnya sekitar 17 km2 persegi, merupakan sumber pendukung kehidupan satu-satunya bagi penduduk sekitar. Lima perenam penduduk Hijaz adalah nomaden. Oasis-oasis tertentu seperti Fadak (kini al-Hâ’it), yang perannya cukup diperhitungkan pada masa awal Islam, kini telah kehilangan signifikansinya. Pada masa Nabi, kebanyakan dataran luas yang subur ini telah dihuni dan ditanami oleh orang-orang Yahudi. Rata-rata suhu pertahun di dataran rendah Hijaz mendekati 90oF. Dengan suhu sedikit di bawah 70oF, Madinah terasa lebih menyegarkan disbanding kota tetangganya di selatan, Mekah (Hitti, 2002: 20-21).

Hanya Yaman dan Asir yang mendapatkan curah hujan yang cukup untuk bercocok tanam secara teratur. Tanaman yang tumbuh dua musim dapat dijumpai di lembah subur ini yang berjarak sekitara 340 km. dari pesisir Shan’â, ibu kota Yaman modern, memiliki ketinggian lebih dari 7.000 kaki di atas permukaan laut yang menjadikannya sebagai salah satu kota terbaik dan terindah di Semenanjung. Dataran subur lainnya, meskipun tidak merata kesuburannya, bisa dijumpai di sekitar pesisir. Permukaan tanah Hadramaut dicirikan dengan perbukitan landai yang cukup banyak memiliki kandungan air bawah tanah. Oman, wilayah paling timur, mendapatkan curah hujan yang cukup. Daerah-daerah yang sangat panas dan kering adalah Jedah, Hudaidah dan Masqat (Hitti, 2002: 21).

Semenanjung Arab sama sekali tidak memiliki satu pun sungai besar yang mengalir sepanjang dua musim dan bermuara di laut. Ia juga tidak memiliki aliran sungai yang bisa dilalui kapal. Sebagai ganti sungai, Semenanjung Arab memiliki jaringan wadi (danau) yang menampung limpahan curah hujan yang cukup deras. Wadi-wadi ini juga mempunyai peran lain: mereka menjadi penentu arah rute perjalanan kafilah dan jemaah haji. Sejak masa kelahiran Islam, para jemaah haji telah membentuk satu jaringan penghubung penting antara Semenanjung Arab dengan dunia luar. Jalur darat yang penting adalah dari Mesopotamia, melalui Buraidah di Nejed, menyusuri Wâdî al-Sirhân dan menyusuri pesisir Laut Merah. Jalur di dalam semenanjung itu sendiri bisa ditempuh melewati pesisir pantai yang mengitari semenanjung, atau bisa juga ditempuh melintasi semenanjung dari barat daya ke timur laut menembus oasis bagian tengah dengan menghindari wilayah yang disebut Daratan Kosong (Hitti, 2002: 21-22).

Seorang ahli geografi abad ke-10, al-Istakhrî, menyebutkan hanya satu tempat di Hijaz, yaitu bukit di dekat Taif yang airnya dingin membeku. Al-Hamdâni juga menyebutkan adanya air dingin membeku di Shan’â. Selain tempat-tempat itu, Glaser juga menambahkan tempat lain seperti Bukit Hadhûr al-Syaikh di Yaman, tempat salju turun hampir setiap musim dingin. Embun es juga lebih banyak dijumpai di sana (Hitti, 2002: 22).

Kondisi Lahan, Budidaya Tanaman, dan Fauna

Udara yang kering dan tanah yang beragam mengurangi kemungkinan tumbuhnya tanaman-tanaman hijau. Hijaz banyak ditumbuhi pohon kurma. Gandum tumbuh di Yaman dan oasis-oasis tertentu. Barley ditanam untuk makanan kuda. Biji-bijian tumbuh di beberapa wilayah tertentu, dan padi tumbuhdi Oman dan Hasa. Di dataran tinggi yang sejajar dengan pantai selatan, terutama di Mahrah, tanm;an penghasil gaharu—yang memainkan peranan penting pada masa-masa awal perdagangan di Arab Selatan—masih banyak dijumpai. Hasil pertanian utama dari Asir adalah getah Arab. Kopi, yang menjadi ciri khas Yaman, dibawa ke Semenanjung Arab bagian selatan pada abad ke-14 dari Abissinia. Rujukan paling awal tentang “anggur Islam” ini terdapat dalam tulisan-tulisan abad ke-16. Kopi pertama sekali disebutkan oleh para penulis Eropa pada 1585 (Hitti, 2002: 22-23).

Di antara pohon-pohon di gurun pasir terdapat beberapa spesies pohon akasia, termasuk athl dan ghada, yang menghasilkan minyak hitam unggulan. Spesies lainnya, talh, menghasilkan getah Arab. Gurun pasir juga menghasilkan samh, biji-bijian yang menghasilkan tepung untuk membuat bubur, serta jamur hitam kecoklatan dan al-sana (tanaman obat) yang banyak dicari (Hitti, 2002: 23).

Di antara tanaman yang dibudidayakan, anggur—dibawa dari daratan Suriah pada abad ke-4 M—bisa dijumpai di Taif, dan menghasilkan minuman beralkohol yang dikenal dengan sebutan nabîdh al-zabîb. Meski demikian, arak (khamr), yang banyak didendangkan oleh para penyair Arab, merupakan produk impor dari Hauran dan Libanon. Pohon zaitun, yang berasal dari Suriah tidak dikenal di Hijaz. Produk lainnya dari oasis-oasis Arab adalah delima, apel, apricot, kacang almond, jeruk, lemon, tebu, semangka, dan pisang. Orang-orang Nabasia dan Yahudi mungkin merupakan bangsa pertama yang memperkenalkan tanaman buah-buahan itu dari utara (Hitti, 2002: 23).

Ada satu jenis tumbuhan yang menjadi primadona pertanian di Semenanjung Arab, yaitu kurma. Buah kurma sangat dikenal luas di dunia, banyak diminati dan bernilai tinggi. Dimakan bersama susu, buah kurma merupakan makanan utama orang-orang badui dan, di samping daging unta, merupakan satu-satunya makanan padat mereka. Minuman dari buah kurma yang diperam disebut nabîdh , dan sangat disukai. Biji buah kurma yang ditumbuh dapat dibuat menjadi makanan unta. Memiliki “dua benda hitam” (al-aswadayn ), yaitu air dan kurma, merupakan impian setiap orang badui. Nabi diriwayatkan pernah bersabda,”Hormatilah bibi kalian, yaitu pohon kurma yang diciptakan dari tanah yang sama dengan Adam.” Para penulis Arab menyebutkan seratus jenis kurma yang terdapat di Madinah dan sekitarnya (Hitti, 2002: 23-24).

Ratu tumbuhan Arab ini dibawa dari utara, yaitu dari Mesopotamia, tempat pohon kurma menjadi tumbuhan penting yang menarik minat leluhur manusia. Kosakata bahasa Arab di Nejed dan Hijaz tentang pertanian, misalnya ba’l (tanaman tadah hujan), akkâr (pembajak tanah), dan sebagainya, menunjukkan bahwa kata-kata itu diambil dari kosakata bangsa Semit utara, terutama bangsa Aramia (Hitti, 2002: 24).

Dalam dunia fauna dikenal beberapa kosakata seperti namîr (panter), fahd (macan tutul), hyena, serigala, rubah, dan kadal-kadalan (khususnya al-dhabb). Singa, yang sering dikutip oleh para penyair kuno di Semenanjung Arab, kini sudah punah.  Beberapa spesies monyet dapat ditemukan di Yaman. Di antara burung pemangsa, ‘uqâb (elang), hubâra (nasar), rajawali, elang besar dan burung hantu bisa ditemukan di semenanjung. Burung gagak sangat banyak jumlahnya. Burung yang paling popular adalah hudhud, camar (si penyanyi), bulbul, merpati, dan satu spesies burung puyuh yang dikenal dalam literatur Arab dengan nama al-qathâ (Hitti, 2002: 24).

Hewan yang paling banyak dipelihara adalah unta, keledai, anjing penjaga, anjing pemburu (salûqi), kucing, domba, dan kambing. Menurut cerita, keledai dibawa dari Mesir setelah masa Hijrah Nabi (Hitti, 2002: 24).

Gurun pasir juga melahirkan beberapa spesies baru belalang yang menujadi santapan orang-orang Badui, dengan cara dibakar kemudian dibubuhi garam. Wabah belalang biasanya muncul setiap tujuh tahun sekali. Menurut cerita orang banyak, binatang reptil yang terdapat di Nufûd adalah sejenis ular berbisa (viper). Lawrence menceritakan pengalamannya yang menegangkan ketika menangani ular di Wâdî al-Sirhân (Hitti, 2002: 24).

Hewan lain yang dikenal luas dalam literature Islam adalah kuda. Hewan ini termasuk hewan yang paling belakangan diperkenalkan kepada bangsa Arab kuno. Hewan ini belum dikenal oleh orang-orang Semit terdahulu. Sebagai hewan peliharaan pada awal zaman klasik di timur Laut Kaspia, yang dikembangbiakkan oleh para penggembala nomad Indo-Eropa, kuda baru belakangan dibawa dalam jumlah besar oleh orang-orang Kassit dan Hitti, dan dari sanalah—sekitar dua abad sebelum Masehi – kuda dibawa ke Asia Barat. Dari Suriah, kuda diperkenalkan ke Semenanjung Arab sebelum abad pertama Masehi. Di sanalah hewan itu memiliki kesempatan yang paling baik untuk menjaga kemurnian darahnya, terbebas dari percampuran keturunan. Orang-orang Hyksos membawa jenis kuda itu dari Suriah ke Mesir, sementara orang-orang Lydia membawanya dari Asia Kecil ke Yunani, yang disakralkan oleh bangsa Phidia di Kuil Parthenon, Atena. Dalam catatan bangsa Mesir, Assyria-Babilonia dan Persia awal, diceritakan bahwa orang-orang Arab terdahulu merupakan para penunggang unta, bukan pengendara kuda. Unta, bukan kuda, dijadikan upeti dari bangsa “Urbi Romawi” untuk bangsa Assyria, bangsa penakluk. Tentara Xerxes yang hendak menyerbu Yunani menyebutkan bahwa bangsa Arab menunggangi unta, Strabo, kemungkinan atas perintah temannya Aelius Gallus, seorang jenderal Romawi yang menduduki kawasa Arab pada akhir 24 S.M., menyangkal keberadaan kuda di semenanjung ini (Hitti, 2002: 25).

Karena ketenarannya dalam bentuk fisik, daya tahan, kecerdasan dan kepatuhan kepada pemiliknya, kuda keturunan Arab (kuhaylan) dikenal oleh orang-orang Barat sebagai keturunan kuda unggulan. Pada abad kedelapan, orang-orang Arab membawa jenis kuda itu ke Eropa melalui Spanyol , yang melahirkan kuda keturunan Berber dan Andalusia. Selama periode Perang Salib, kuda Inggris dikawinkan silang dengan kuda-kuda Arab (Hitti, 2002: 25).

Di dataran Arab, kuda merupakan hewan mahal yang pemberian makanan dan perawatannya cukup merepotkan pemiliknya yang kebanyakan tinggal di gurun. Memiliki kuda merupakan simbol kemewahan. Keistimewaan utama kuda adalah kecepatanntya yang sangat diperlukan dalam serbuat kilat (ghazw) yang menjadi tradisi orang-orang badui. Kuda juga digunakan untuk pertandingan (jarîd) dalam olahraga berburu. Di perkampungan Arab, di tengah musim kemarau ketika air sangat langka didapatkan,  seorang anak kecil akan dibiarkan menangis kehausan, sementara orangtuanya yang memiliki kuda akan menuangkan air terakhir ke dalam sebuah wadah untuk diminumkan kepada kudanya (Hitti, 2002: 25-26).

Jika kuda dianggap sebagai hewan taklukan manusia yang paling hebat, maka dari sudut pandang orang-orang nomad, unta merupakan hewan yang paling berguna. Tanpa unta, gurun pasir tampaknya mustahil menjadi hunia manusia. Unta merupakan sumber penghidupan orang-orang nomad, kendaraan, dan alat tukar mereka. Mahar, barang tebusan (diyah), benda taruhan (maysîr), simbol kekayaan para pemimpin, semuanya dihitung dengan bilangan unta. Unta merupakan teman setia orang Badui, alter ego dan penolong mereka. Orang Badui meminum air susunya (yang diberikan juga untuk hewan ternak mereka), memakan dagingnya, menutupi tubuh mereka dengan kulitnya, dan membuat tenda dari bulunya. Kotorannya mereka jadikan bahan bakar, dan air badui, unta lebih dari sekedar “bahtera gurun”; ia merupakan karunia Tuhan (lihat Q.S. 16: 5-8). Mengutip ungkapan  Sprenger, kurang merasa bangga jika disebut sebagai ahl al-ba’îr, masyarakat unta. Musil menyebutkan bahwa hampir tidak ada satu pun anggota suku Ruwalah yang tidak pernah minum air susu unta. Pada waktu darurat, unta tua akan disembelih atau sebatang kayu akan dirogohkan ke dalam mulutnya supaya memuntahkan air. Jika seekor unta telah diberi minum sehari atau dua hari sebelumnya, maka air yang ia muntahkan bisa diminum. Peran penting unta dalam kehidupan ekonomi di kawasan semenanjung tercermin dari kenyataan bahwa bahasa Arab memiliki sekitar seribu sebutan untuk unta berikut jenis keturunan dan tahap perkembangannya, jumlah yang hanya bisa ditandingi oleh kata sinonim untuk pedang. Unta Arab bisa berjalan selama kurang lebih 25 hari pada musim dingin, dan sekitar lima hari pada musim panas tanpa diberi minum. Unta merupakan faktor yang mempermudah penaklukkan orang-orang Islam terdahulu karena bisa bergerak lebih cepat sehingga mereka lebih unggul disbanding orang-orang taklukannya yang hidup di perkotaan. Diriwayatkan bahwa Khalifah ‘Umar pernah berkata, “kemakmuran orang Arab bergantung pada kesehatan unta-untanya.” Kawasan Semenanjung masih tetap menjadi pusat pembiakan unta yang terkenal di dunia. Kuda-kuda Nejed, keledai Hasa, dan unta berpunuk tunggal dari Oman dikenal di seluruh dunia. Pada masa lalu, pencarian mutiara di Oman dan kawasan Teluk Persia, penambahan garam di beberapa wilayah tertentu, dan peternakan unta merupakan sumber pendapatan utama mereka. Tetapi sejak dimulainya eksplorasi lading minyak pada 1933, aktivitas besar-besaran yang terkait dengan industry perminyakan telah menjadi sumber pendapatan terbesar. Ladang-ladang minyak di Hasa termasuk di antara ladang minyak terkaya di dunia (Hitti, 2002: 26-27).

Dari barat lau Semenanjung Arab, seperti halnya kuda yang merupakan hewan asli Amerika, unta mulai diperkenalkan ke Palestina dan Suriah ketika terjadi penyerbuan bangsa Madyan pada abad ke-11 SM (Perjanjian Lama, Kitab Hakim-Hakim 6: 5, lihat juga Kitab Kejadian 24: 64). Peristiwa itu merupakan rujukan paling awal tentang penggunaan hewan itu dalam skala yang luas. Unta diperkenalkan ke Mesir melalui penaklukan bangsa Assyria pada abad ketujuh S.M., dan ke Afrika Utara bersamaan dengan penaklukan umat Islam pada abad ke-7 Masehi (Hitti, 2002: 27).

2.  Latar Belakang Terjadinya Perang Badar

Setelah kaum Quraisy merampas harta kekayaan kaum muslimin yang berhijrah ke Madinah, dan seserius mungkin mereka memikirkan upaya untuk melindungi perdagangan mereka ke Syam dari kaum muslimin yang telah menghimpun kekuatan di Madinah, kaum muslimin juga memikirkan upaya untuk menahan langkah mereka membawa kekayaan tersebut. Sehingga terjadilah perang Badar Kubra pada 17 Ramadhan 2 H atau 13 Maret 634 M. Ketika kaum muslimin keluar untuk menangkap dan manahan kafilah Quraisy. Mereka mengawali perang ini dengan cara menguasai perekonomian kaum Quraisy (Abu Khalil, 2006: 234)

Perang Badar merupakan perang besar pertama dalam sejarah Islam. Terjadi pada tahun 624 M, di mana kaum Muslim melawan pasukan Quraisy yang jumlahnya tiga kali lebih banyak. Waktu itu pasukan Muslim yang bersenjatakan hanya  8 pedang, memiliki pasukan sejumlah 313 orang, 70 ekor unta, 2 ekor kuda, itu berarti bahwa mereka harus berjalan selama perang. Jika pun ingin berkendara, harus ada atau tiga sampai empat orang duduk di atas satu unta. Sementara pihak pasukan Quraisy terdiri atas 1000 pasukan bersenjata lengkap, 700 ekor unta, dan 100 ekor kuda (Iqbal, 2010: 57).

Ibn Hisyam dalam bukunya Sirah Ibn Hisyam mengambil pendapat dari Ibnu Ishaq yang berkata,”Jumlah keseluruhan kaum Muslimin dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang hadir di Perang Badar, serta diberi jatah rampasan perang dan pahala jihad kendati tidak hadir adalah tiga ratus empat belas. Rinciannya adalah sebagai berikut: 1. Dari kaum Muhajirin sebanyak delapan puluh tiga orang, 2. Dari kaum Anshar dari kaum Al-Aus sebanyak enam puluh satu orang, 3. Dari kaum Anshar dari kaum Al-Khazraj sebanyak seratus tujuh puluh orang.”

Perang ini terjadi karena Rasulullah saw. mendengar ada kafilah dagang milik kaum kafir Quraisy yang baru saja kembali dari Syam di bawah pimpinan Abu Sufyan ibn Harb. Maka, Rasulullah saw. pun mengerahkan pasukannya, dengan tujuan merampas barang perniagaan yang dibawa kafilah tersebut sebagai ganti dari harta benda umat Islam yang mereka tinggalkan di Mekah. Tetapi, rupanya sebagian Muslim merasa berat melakukan itu, meskipun ada juga sebagian lainnya yang merasa ringan. Sebab, mereka tidak pernah membayangkan umat Islam akan berperang untuk menuntut harta mereka yang ditinggalkan di Mekah (Al-Buthy, 2009: 249).

Abu Sufyan yang masih berada di tengah perjalanan menuju Mekah ternyata mengetahui rencana pasukan Muslim. Maka, ia pun mengirim Dhamdham ibn Amr al-Giffari ke Mekah untuk menyampaikan berita tersebut kepada orang-orang Quraisy, sekaligus meminta bantuan pasukan untuk menjaga barang perniagaan mereka yang masih dalam perjalanan (Al-Buthy, 2009: 249-250).

Mendengar berita itu, orang-orang Quraisy pun langsung menyiapkan pasukan. Hampir semua laki-laki Quraisy ikut angkat senjata menghadapi pasukan Muslim. Bahkan, tidak seorang pun tokoh Quraisy yang tidak ikut berangkat berperang pada saat itu, sehingga jumlah pasukan Quraisy hampir mencapai seribu orang (Al-Buthy, 2009: 250).

Ibnu Ishaq berkata,”Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menumpuh perjalanannya dari Madinah ke Makkah dengan melewati gunung Madinah, kemudian melewati Al-Aqiq, kemudian melewati Dzi Al-Hulaifah, kemudian melewati Aulatul Jaisy. Turba, kemudian melewati Malal, kemudian melewati Ghamis Al-Hamam dari Marayain, kemudia melewati Shukhairatul Yamam, kemudian melewati As-Sayalah, kemudia melewati Fajji Ar-Rauha’, kemudia melewati Syanukah. Itu adalah rute perjalanan yang biasa dijalani manusia (Ibn Hisyam, 2009: 591).

Ibnu Ishaq berkata,”Orang-orang Quraisy tetap berangkat hinga tiba di tepi lembah yang jauh (dari Madinah) tepatnya di lembah di belakang bukit pasir dan di tengah lembah, yaitu Yalyal yang terletak di antara Badar dan bukit pasir di belakang orang-orang Quraisy. Sedang Sumur Badar terletak di lembah yang dekat (dengan Madinah) di kabilah Yalyal menuju Madinah. Kemudian Allah menurunkan hujan. Lembah tersebut tanahnya lembek. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya mendapatkan air hujan yang membuat tanah menjadi padat, dan perjalanan mereka pun tidak terganggu. Sedang orang-orang Quraisy mendapatkan air, dan karenanya mereka tidak bisa berjalan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendahului orang-orang Quraisy tiba di lembah tersebut. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di air yang paling dekat dengan Badar, beliau berhenti di sana.” (Ibn Hisyam, 2009: 597-598).

3.  Lokasi-loikasi strategis di kawasan Badar.

Perang Badar sendiri diambil dari nama tempat berlangsungnya perang, yaitu sumur Badar yang terletak di lereng yang landai di bagian timur suatu lembah yang bernama Yalyal. Bagian barat lembah dipagari oleh bukit besar bernama Aqanqal (Iqbal, 2010: 61-62).

Peta Wilayah Badar
Gambar 1.1 Peta Wilayah Badar
(Sumber: Atlas Hadits: Uraian Lengkap Seputar Nama, Tempat, dan Kaum yang Disabdakan Rasulullah)



Badar merupakan perairan yang terkenal. Ia terletak di bawah Lembah Kuning di antara Mekah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Jika melakukan perjalanan ke sana dari Jar di pantai Laut Merah, menghabiskan waktu satu malam. Peristiwa hebat di sana pernah terjadi, yaitu Perang Badar besar, pada Ramadhan 2 H. Pada perang tersebut antara Badar dan Madinah terdapat 7 pos (dengan total jarak 150 km), yaitu Pos Dzatul Jaisy, Abbud, Marghah, Munsharaf, Dzatu Ajdzal, Mu’alah, dan Atsil, Badar juga merupakan suatu pos yang terdiri dari dua bagian; Badar Qital (Badar I) dan Badar Mau’id (Badar II) (Abu Khalil, 2007: 61)

Setelah dibangun jalan baru (antara Mekah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah), para pelancong (khususnya jama’ah haji) tidak melewati badar ketika melakukan perjalanan pulang-pergi antara Mekah dan Madinah (Abu Khalil, 2007: 61).

Peperangan ini adalah yang dikenal dalam sejarah Islam dengan nama Perang Badar Kubra atau Perang Badar saja. Akan tetapi, menurut para sejarawan, peperangan ini didahului oleh sebuah perang lain yang disebut Badar Shugra yang terkadang juga disebut Perang Safdan. Peperangan ini terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, namun menurut Ibnu Ishaq pada awal bulan Jumadil Ula, yaitu sepuluh hari sebelum Rasulullah saw. Memimpin pasukan ke Asyirah (Muhallawi, 2005: 237-238).

Pada perang Badar terdapat paling tidak tiga tempat penting yang berada di sekitar lokasi berkecamuknya perang. Pertama, kawasan di sekitar mata air Badar. Tempat ini adalah yang diusulkan al-Khabbab ibnul Mundzir kepada Rasulullah saw. sebagai tempat bermukim pasukan muslim. Rasulullah saw. sendiri pada awalnya cenderung memilih suatu tempat yang agak jauh dari mata air tersebut, yaitu di bagian bawahnya. Di lokasi itu, Rasulullah saw. lalu memerintahkan pasukannya untuk membuat semacam kolam kecil yang diisi penuh dengan air yang dialirkan dari mata air di dekatnya. Dengan langkah ini, pasukan muslim berkesempatan untuk minum pada saat perang tengah berkecamuk, sementara pasukan Quraisy terhalangi untuk mengambil air dari mata air tersebut (Muhallawi, 2005: 238).

Ibnu Ishaq berkata bahwa aku diberitahu oleh beberapa orang dari Bani Salamah yang berkata bahwa Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tempat ini termasuk tempat yang ditentukan Allah dan kita tidak boleh memajukannya atau mengakhirkannya. Ataukah tempat ini termasuk pendapat, perang, dan skenario perang?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Ini termasuk pendapat, perang, dan skenario perang.”Al-Hubab bin Al-Mundzir berkata,”Wahai Rasulullah, ini bukan tempat yang tepat. Pergilah bersama para sahabat hingga tiba di air yang paling dekat orang-orang Quraisy. Kita berhenti di sana, kemudian kita menutupnya, menimbunnya, membangun kolam, memenuhi kolam tersebut dengan air, kemudian kita berperang melawan orang-orang Quraisy dalam keadaan kita bisa minum, sedang mereka tida bisa minum. “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh engkau memberi pendapat yang tepat. “Kemudian Rasululllah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat pergi. Ketika tiba di air yang dekat dengan orang-orang Quraisy, beliau berhenti. Beliau perintahkan air sumur dialirkan, kemudian beliau membangun kolam di dekat sumur tersebut, memenuhinya dengan ari, dan para shabat melemparkan tempat-tempat air mereka ke kolam tersebut (Ibn Hisyam, 2009: 598).

Tempat penting selanjutnya adalah sebuah bukit kecil yang terletak di pinggir medan peperangan Badar. Di lokasi itu Rasulullah saw. mendirikan sebuah bangsal atau tenda yang beliau tempati bersama Abu Bakar sebagai pengawal. Pendirian tenda ini berdasarkan usulan Sa’’ad bin Mu’adz. Menurut pandangan mayoritas sejarawan, tenda ini telah memainkan peran penting dalam perang Badar di mana Rasulullah saw. menjadikannya sebagai tempat untuk shalat dan berdoa dengan khusyu kepada Allah swt. Dalam doanya beliau bermohon bantuan Allah swt. Berupa bala tentara dari langit. Diriwayatkan bahwa pada saat itu Rasulullah saw. juga menyatakan dalam doanya,”Ya Allah, penuhilah janji Engkau kepadaku. Ya Allah, sekiranya pada saat ini pasukan muslim kalah maka tidak akan ada lagi orang yang menyembah-Mu di seluruh permukaan bumi ini.” (Muhallawi, 2005: 238).

Adapun tempat penting terakhir adalah al-Qalib, yaitu lokasi yang dijadikan kuburan bagi pasukan kafir Quraisy yang terbunuh dalam peperangan tersebut. Rasulullah saw. memerintahkan pasukannya untuk menggali kuburan tersebut dan selanjutnya memasukkan satu per satu jenazah musuh diiringi dengan seruan syukur beliau terhadap pertolongan Allah swt. Dan kekalahan orang-orang yang menentang Islam. Jenazah pertama yang dimasukkan ke dalam lubang itu adalah jenazah Umayyah bin Khalaf. Selanjutnya diriwayatkan bahwa pada malam ketiga setelah hari dimakamkannya orang-orang musyrik tersebut, Rasulullah saw. pergi ke sana diiringi beberapa sahabat yang lain. Mereka selanjutnya berdiri di pinggir kuburan tersebut  (Muhallawi, 2005: 239).

4.  Perang Badar ditinjau dari segi geohistori.

Secara geografis, medan pertempuran Badar terletak di daerah antara Jeddah dan Mekah. Tempat ini terbagi kepada dua bagian, yaitu berpasir dan berbatu-batu. Sementara itu, wadi Badar terletak di antara dua gunung, Gunung yang pertama berada di sebelah timur bernama al-Udwatul Qashwa, sementara yang satu lagi terletak di barat dan bernama al-Udwatud Dunya. Dari arah selatan Badar juga terlihat membentang sebuah gunung lain yang disebut al-Asfal. Pada masa Rasulullah saw, di wadi Badar ini terdapat beberapa mata air yang sering dijadikan oleh para musafir dan kafilah sebagai tempat berhenti dan istirahat  (Muhallawi, 2005: 239).

Nabi saw. senantiasa melakukan penjajakan situasi dan daerah yang berkaitan dengan pertempuran, baik pra maupun pasca tempur. Sun Tzu dalam bukunya The Art of War mengatakan, “Yang menyebabkan kegagalan para panglima perang dalam melaksanakan operasi adalah karena kurangnya pengetahuan sebelumnya. Apabila anda mengenal keadaan pihak musuh dan pihak sendiri, maka kemenangan tidak perlu diragukan lagi. Tetapi jika anda mengenal keadaan cuaca dan medan peperangan, maka kemenangan itu akan lebih sempurna.” (Fauzun, 2008: 93).

Penyelidikan kekuatan dan kelemahan pihak musuh sebelum melakukan peperangan, termasuk seni dan strategi perang yang diterapkan Nabi saw. yang hampir selalu memenangkan peperangan, meski jumlah pasukan tentaranya sedikit dibandingkan pihak musuh. Data intelijen militer adalah keterangan yang sudah dinilai dan ditafsirkan mengenai keadaan atau kemungkinan musuh atau daerah operasi (termasuk cuaca dan medan), yang kemudian diambil kesimpulan-kesimpulannya. Dalam hal ini termasuk pengetahuan tentang kemampuan-kemampuan musuh yang terbaru (Fauzun, 2008: 94).

Patroli-patroli pengintai dan personel mata-mata yang dikirim oleh Nabi saw. berperan untuk mengetahui secara detail tentang kegiatan-kegiatan yang dicurigai bisa membahayakan komunitas muslim yang ada di Madinah. Khususnya untuk pengiriman sebelum perang Badar, gambaran yangmungkin muncul dari pengiriman pasukan-pasukan patroli pengintaian adalah bahwa Nabi saw. memerintahkannya tanpa ada sebab (Fauzun, 2008: 94).

Pagi harinya, hari jumat tanggal tujuh belas Ramadhan tahun kedua Hijriyah, pertempuran antara pasukan Muslim melawan pasukan musyrik pun dimulai. Rasulullah saw. mengambil segenggam batu kerikil yang kecil-kecil, kemudian melemparkannya ke arah pasukan Quraisy sambil berseru, “Buruklah wajah-wajah itu.” (Al-Buthy, 2009: 253).

Pertempuran berlangsung sengit. Tetapi kemenangan berpihak pada pasukan Muslim. Dalam perang ini, tujuh puluh orang pembesar Quraisy tewas, dan tujuh puluh orang lainnya berhasil ditawan. Adapun dari pihak Muslim, jumlah pasukan yang syahid berjumlah empat belas orang (Al-Buthy, 2009: 253).

Peta Perang Badar
Gambar 1.2 Peta Perang Badar
(Sumber: Atlas At-Tarikh Al-‘Arabi Al-Islami halaman 32)


Bagi kaum Muslim, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekah. Mekah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai (Iqbal, 2010: 63).

Pertempuran antara orang-orang Mekah dan orang-orang Madinah, kebanyakan kaum Muhajirin, terjadi di Badar, 144,5 km. sebelah barat daya Madinah, pada bulan Ramadhan 624 M. Berkat kepemimpinan Muhammad, umat Islam yang berjumlah tiga ratus orang berhasil mengalahkan seribu orang Mekah. Seberapa pun pentingnya peristiwa itu dari sudut pandang militer, Perang Badar telah menjadi landasan kekuatan kepemimpinan Muhammad. Islam telah memperoleh kemenangan militer yang pertama dan menentukan (Hitti, 2002: 146).

Perang Badar merupakan perang yang memanfaatkan kondisi geografi alam untuk mencapai sebuah kemenangan. Hal ini dibuktikan dengan pemilihan tempat dari kaum muslimin yang memilih tempat di wilayah yang dekat dengan mata air. Setelah kaum muslimin menguasai wilayah mata air, mereka juga menutup sumur yang dekat dengan pihak Quraisy yang menjadi lawan mereka. Sehingga ketika kaum Quraisy datang ke medan pertempuran, mereka datang dengan kondisi kehausan dan tidak memperoleh pasokan air minum karena sumur yang dekat dengan mereka telah ditutup oleh kaum muslimin.

Akhirnya kaum Quraisy bertempur dengan kaum muslimin dengan kondisi kehausan sehingga hal ini juga merupakan keuntungan bagi pihak kaum muslimin. Kaum muslimin dengan jumlah sedikit yaitu sekitar 314 orang akhirnya mampu mengalahkan pihak Quraisy yang berjumlah sekitar 1000 orang.

DAFTAR RUJUKAN


  • Abu Khalil, Syauqi. 2006. Atlas Al-Qur’an: Mengungkap Misteri Kebesaran al-Qur’an. Jakarta: Penerbit Almahira.
  • Abu Khalil, Syauqi. 2007. Atlas Hadits: Uraian Lengkap Seputar Nama, Tempat, dan Kaum yang Disabdakan Rasulullah. Jakarta: Penerbit Almahira.
  • Abû Khalîl, Syauqîy. 2002. Atlas At-Tarikh Al-‘Arabi Al-Islami. Damaskus: Dâr Al-Fikr.
  • Abû Khalîl, Syauqîy. 2005. Atlas Al-Hadîts An-Nabawîy min Al-Kutub Al-Sittah. Damaskus: Dâr Al-Fikr.
  • Al-Buthy, Said Ramadhan. 2009. Fikih Sirah: Hikmah Tersirat dalam Lintas Sejarah Hidup Rasulullah Saw. Jakarta: Penerbit Hikmah.
  • Hitti, Philip K. 2002. History of The Arabs. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
  • Ibn Hisyam, Abdul Malik. 2009. Sirah Ibn Hisyam. Jakarta: Darul Falah.
  • Iqbal, Akhmad. 2010. Perang-Perang Paling Berpengaruh di Dunia. Yogyakarta: Penerbit Jogja Bangkit Publisher.
  • Jamal, Fauzun. 2008. Intelijen Nabi: Melacak Jaringan Intelijen Militer dan Sipil Pada Masa Rasulullah. Jakarta: Pustaka Oasis.
  • Muhallawi, Hanafi. 2005. Tempat-Tempat Bersejarah Dalam Kehidupan Rasulullah. Jakarta: Gema Insani Press.(Sirah Nabawiyah)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Artikel Terkait

Previous
Next Post »